Kisah sebelumnya bisa dibaca di sini.

***

“Aku belum telat to Bu?” Gadis di depanku bertanya dengan wajah penuh harap.

Ladalah! Gimana to ya … isuk dele sore tempe. Kemarin lalu, saat kutanya, dia bilang seratus persen tidak mau. Bahkan dengan gamblang menjelaskan: Mas Andik tidak sesuai kriteria yang ia harapkan dan tempat tinggalnya jauh. Lah kok sekarang main mau-mau aja!

“Kenapa berubah pikiran?” tanyaku basa-basi.

Gadis itu pun menjelaskan alasannya. Tentang usia yang telah matang dan keinginan untuk hijrah dari kota kelahiran.

“Berarti keputusan yang waktu itu belum dipikirkan dengan matang?” tanyaku lagi. “Bukannya waktu itu njenengan bilang sudah istikharah?”

“Iya Bu,” jawab Si Gadis. “Tapi kemudian saya berubah pikiran.”

Aku tersenyum, mencoba mengajak Si Gadis berbicara lewat mata. Setelahnya, nafas kuhirup dalam-dalam. Kususun kalimat dengan berbagai pertimbangan agar tidak melukai perasaannya. Kupilih kosakata yang sekiranya pas untuk memberi tahu, bahwa Mas Andik sedang menjalani ta’aruf dengan orang lain.

“Njenengan sudah memberi keputusan waktu itu kan?” Kumulai menjelaskan. “Keputusan untuk tidak melanjutkan.”

“Iya.”

“Jadi,” ucapku pelan. Kulirik wajah gadis yang sedari tadi penuh harap. “Biodata Mas Andik udah kutawarkan pada orang lain.”

Kulihat semburat kecewa di wajah Si Gadis. Tapi biarlah, dia kan juga tahu bagaimana aturan dalam ta’aruf. Satu orang tidak mungkin kutawarkan pada banyak calon dalam waktu bersamaan.

Si Gadis sudah kuberi kesempatan pertama, tapi menolak. Sekarang, kesempatan itu telah berpindah pada wanita lain. Dia tidak berhak mengambilnya kembali, kecuali jika proses dengan wanita lain itu telah jelas gagal.

Meskipun, sebagai perantara, jujur, aku merasa Mas Andik lebih cocok sama Si Gadis. Secara pendidikan mereka setara. Si Gadis juga sangat lihai dalam berdagang. Latar belakang itulah yang membuatku yakin mereka akan nyambung dan klop. Mas Andik seorang wirausaha, pedagang buku dan mengelola warung kopi sedangkan Si Gadis adalah sales produk herbal.

Tapi, ya itu tadi. Jodoh telah Allah atur sedemikian uniknya, sehingga apa yang kita pikir cocok, belum tentu pas juga menurut Allah.

“Aku kenal ya Bu sama calonnya Mas Andik?”

Kupandangi Si Gadis dengan raut muka penuh keberatan. Aku yakin wanita di depanku ini tidak lupa tentang kode etik ta’aruf. Siapa sedang ta’aruf dengan siapa adalah sebuah rahasia. Tidak boleh disampaikan kepada orang lain yang tidak berkepentingan.

“Orang sini juga ya Bu?” lanjutnya tanpa merasa risih dengan reaksiku.

“Kenal atau tidak, orang sini atau bukan, sebaiknya tidak perlu ditanyakan,” ucapku akhirnya. “Lupa to?”

Si Gadis tersenyum kecut. Terlihat dia menyesal telah menanyakan hal yang tidak seharusnya.

“Eh, maaf ya Bu. Aku keceplosan.” Dengan kikuk Si gadis tersenyum. “Makasih udah diingatkan.”

“Nggak apa-apa. Santai aja.”

“Ya sudah Bu, saya pamit.” Si Gadis menyalamiku dan bergegas keluar.

Aku mengantarnya sampai di depan pintu dan memberi pelukan. Kuharap, jika pada akhirnya ta’aruf yang sedang dijalani Mas Andik berhasil, Si Gadis tidak syok karena calon Mas Andik ternyata adalah sahabatnya.

***

Ya Allah, apa maksud semua ini? Di saat aku rela bersuamikan tukang warung yang hanya lulus SMA malah kesempatan itu telah diberikan pada orang lain. Kenapa Engkau membiarkanku kembali kecewa?

Dua minggu aku menekan ego. Membiarkan nasihat demi nasihat dari Bu Sri merasuk ke hati. Kuulang-ulang setiap perkataan wanita yang sering mengisi kajian di majelis itu dengan penekanan pada niat ingin mengubah diri menjadi lebih baik.

Seharusnya sejak awal aku resapi nasihat dari Bu Sri. Usia beliau memang tidak jauh beda denganku. Tapi, secara keilmuan dan pengalaman, pastilah beliau lebih paham.

“Sarjana atau tidak, yang penting dia berwawasan. Percuma juga kalau sarjana tapi pikiran tidak terbuka terhadap masukan dari orang lain. Merasa paling benar dan tidak mau terus belajar.”

Nasihat itu kembali menggema dalam ingatan. Persis saat kusampaikan keberatanku pada Mas Andik karena dia hanya lulusan SMA.

“Lelaki itu kan yang penting bertanggung jawab. Bukan dia harus punya pekerjaan tetap, tapi yang paling penting adalah ia tetap bekerja.”

Lagi, kata-kata Bu Sri menyesaki jalan pikiranku.

“Ya sudah, kalau memang keputusan itu hasil istikharah. Mudah-mudahan itu yang terbaik.”

Bodohnya aku! Gara-gara gengsi ingin suami sarjana, aku berbohong dan mengatakan jika penolakan itu adalah hasil istikharah. Harusnya aku lebih jujur dan mengatakan apa adanya. Tentang keinginan punya suami sarjana, tentang keinginan punya suami yang bekerja di kantor.

Meskipun, mungkin jika aku jujur, Bu Sri akan heran. Lah, iya, aku ini juga cuma lulusan SMA dan bekerja sebagai sales produk herbal. Kok ya ngimpi mau suami sarjana dan kerja kantoran! Nggak sekufu(selevel)! Punguk merindukan bulan.

Akhirnya, karena kebohongan yang aku buat sendiri, lepaslah kesempatan untuk segera menikah dan hijrah ke tempat lain. Kandas sudah harapan untuk sedikit menjauh dari beban-beban berat dalam keluarga.

Aku bukannya ingin lepas tanggung jawab dalam mengobati bapak dan menjadi tulang punggung keluarga. Tapi, jika keadaannya seperti ini terus, rasanya aku bisa gila. Setiap hari mencari konsumen, berkeliling dari satu desa ke desa lain. Menyusuri seluk beluk kecamatan, bahkan kabupaten.

Tapi hasil jerih payahku habis begitu saja untuk ongkos berobat dan biaya sehari-hari. Cita-cita yang sempat membara untuk kuliah tidak lagi punya celah. Semua gelap dan tertutup oleh kesulitan ekonomi.

Aku wanita yang punya batas kekuatan. Dengan menikah dan pindah ke daerah lain, ada harapan bahwa kakak lelakiku yang sudah menikah, menjadi lebih peka dan ikut memikirkan ibu dan bapak, tidak hanya memikirkan kehidupan keluarganya saja.

[Bu, maaf jika lancang] Kukirim pesan dengan hati tak karuan. Antara malu dan ingin diberi kesempatan kedua.

[Misal Mas Andik gagal ta’aruf, saya mau mengajukan diri sebagai calon penggantinya] pesan telah terkirim. Tapi belum ada tanda dibaca. Hatiku was-was menanti balasan dari Bu Sri.

***

“Gimana Mas Andik?” tanya Mbak Sri mengagetkanku. “Ada pertanyaan lain?” tanya ibu dua anak itu.

“Mau tanya satu lagi boleh?” tanyaku ragu.

“Boleh, silakan.”

“Apa Mbak Yani yakin, mau menikah dengan laki-laki yang hanya lulusan SMA? Padahal kan Mbak Yani seorang guru.” Akhirnya pertanyaan yang telah lama membuatku resah bisa kusampaikan juga.

“InsyaAllah siap. Tidak sarjana asal berwawasan,” jawab Mbak Yani sambil menunduk.

Aku, Mbak Sri, Mbak Yani, calon ibu mertua dan juga Paklik duduk dalam satu majelis. Kami saling berhadapan tapi Mbak Yani selalu memandang ke lantai, menyembunyikan wajahnya dariku. Hanya sekali ia angkat kepalanya ketika Mbak Sri memintanya melihatku sekilas.

“Maksudnya?” tanyaku belum puas.

“Sing penting isa gawe anakku seneng.” Ibu mertua menimpali tanpa diminta. “Terus saklawase setia, aja nganti poligami!” tandasnya lagi.

Aku mengkeret. Merasa khawatir jika beliau berbicara seperti itu karena curiga dengan penampilanku yang berjenggot dan mengira bahwa aku lelaki yang doyan poligami.

“Nggak akan poligami kan ya Mas Andik?” tanya Mbak Sri spontan. Mencoba menengahi.

“Iya, InsyaAllah. Satu saja nggak habis kok Bu,” jawabku mencoba santai.

Kami akhirnya tersenyum. Paklik menyikut lenganku dan tersenyum. Pasti nanti Paklik akan meledek, “Wah, siap setia sampai mati ini!” terbayang lelaki adik ibuku terbahak setelahnya.

“Nyambung yang tentang berwawasan ya Mas Andik?” ujar Mbak Sri kembali pada pertanyaanku.

Aku mengangguk diikuti semua orang yang ada di majelis.

“Maksudnya, biar pun lulusan SMA asal pikiran terbuka dan mau menerima masukan dari orang lain,” ucap Mbak Sri melanjutkan. “Misal, kalau Mas Andik jadi menikah, kemudian punya anak, Mas Andik harus cari ilmu tentang rumahtangga dan bagaimana menjadi ayah yang baik. Jangan hanya mengandalkan teori katanya, katanya.” Mbak Sri menambahkan keterangan dengan sangat gamblang.

“Kalau masalah pekerjaan bagaimana?” tanya Paklik spontan.

“InsyaAllah, asal halal.” Mbak Yani dengan cepat menjawab.

Aku tersenyum dan bahagia sekali. Rasanya sangat beruntung dikenalkan Mbak Sri dengan wanita, yang insyaAllah soleha dan mau menerimaku menjadi suaminya.

“Yani iki tak sekolahke sampai jadi guru ya dari hasil dagang,” timpal calon ibu mertua dengan berapi-api. “Apa maning (apalagi) ibuk ini kan janda anaknya lima, tapi ya bisa itu anak-anak semua sekolah dan jadi sarjana.”

Lagi-lagi aku manggut-manggut. Merasakan betapa calon ibu mertua juga seorang yang bijaksana. Ya Allah, sungguh anugerah ini sangat indah.

“Jadi jawaban Mas Andik bagaimana?” tanya Mbak Sri kepadaku.

“Bismillah, saya mantap Mbak.” Duh, wajahku pastinya merah. Hidung yang tidak mancung ini pun terasa semakin sulit mengambil nafas, saking grogi dan deg-degan.

“Mbak Yani bagaimana?”

Jantungku memburu, pastinya di dalam sana, darah yang dipompa lebih banyak dari biasanya. Sangat terasa kalau detaknya melebihi maraton. Cepat sekali.

“Keputusannya saya serahkan pada Mamak.”

Hening. Ada sedikit kelegaan bahwa aku tidak ditolak. Tapi …

“Bagaimana Mak?” Lagi, Mbak Sri bertanya sembari mengelus lengan calon ibu mertua.

Ya Allah … perasaan apa ini? jari-jariku kesemutan. Mata rasanya otomatis memejam. Dalam hati aku berteriak, Jangan tolak aku. Please Ya Allah ….

Rasa was-was kembali melanda. Perut mendadak mulas. Jeda waktu satu menit menunggu jawaban kurasa seperti satu tahun. Lama ….

***

Dua mempelai bersanding di pelaminan. Lelaki tinggi, sedikit berisi, dan berjenggot tak henti-hentinya tersenyum. Di sampingnya perempuan manis dengan gaun putih berkerudung menggengam bunga, juga tersenyum.

Di barisan para tamu undangan, dua wanita sedang berbicara. Tampak sangat khusyuk, hingga suara lagu nasyid dari pengeras suara sama sekali tidak mengganggu keduanya.

“InsyaAllah, akan tiba saatnya untukmu. Yang sabar dan luruskan niat,” ucap salah seorang di antara mereka. “Mudah-mudahan, yang telah terjadi jadi pelajaran berharga untuk kita.”

“Iya, Bu,” jawab wanita satunya lagi dengan senyum yang tidak begitu lebar.

“Perkara ini hanya kita dan Allah yang tahu.”

“InsyaAllah, akan saya jaga rahasia ini Bu,” ucapnya dengan lirih sembari menggenggam souvenir dengan ukiran nama, “Andik & Yani”.

Oleh: Sri Bandiyah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: