kisah taaruf yang gagal

Ya Allah, Jangan Biarkan Aku Membujang Hingga Tua

Hitam, gendut, bukan orang kantoran. Apa itu yang bikin para wanita mundur teratur saat ta’aruf denganku? Meskipun ilmu agama kupahami bahwa mencari jodoh itu paling penting adalah agamanya. Tapi, rasa minder tetap saja menerpa.

Jujur, aku masih bisa percaya diri jika kriteria jodoh ituyang penting agamanya’ insyaallah, meskipun aku bukan santri pondok dan bukan seorang hafidz Qur’an, tapi aku lumayan paham ilmu agama. Keluargaku sangat menekankan ilmu agama. Bahkan adik-adikku semua mondok. Satu calon hafidz Qur’an, satu calon ahli hadis.

Sedang aku? Cukuplah aku pencari nafkah yang ulung, tapi salat tak pernah tertinggal jamaah.

Tapi nyatanya, empat kali ta’aruf dan empat kali aku ditolak. Duh Gusti … benar-benar nelangsa. Terlebih simbok udah berkali-kali menyampaikan keinginan menimang cucu. Usiaku pun telah tiga puluh empat.

Tapi mau bagaimana lagi? Perkara jodoh ini kan mutlak rahasia Allah. Jika Dia telah menentukan siapa jodohku, pastilah aku akan mendapatkannya juga. Meski mungkin si dia yang belum kutahu namanya berada di belahan bumi mana.

“Tapi kan kamu harus usaha juga Ndik. Jangan hanya berdoa,” saran temanku saat kucurhat padanya.

“Kurang usaha bagaimana sih?” jawabku kesal. “Kan kamu juga tahu, aku udah empat kali ta’aruf tapi ditolak!” lanjutku dengan nada sedikit ketus.

“Ya, jangan putus asa! Ta’aruf lagi! Lagi! Lagi!”

Benar-benar bikin tambah kesal. Bukannya menawarkan solusi, si teman yang kucurhati malah  tertawa terbahak saat menyampaikan saran yang kupikir hanya basa-basi saja.

“Au ah gelap!”

Selepas curhat yang buntu, aku menyingkir menuju mushala. Warung tempatku mencari nafkah pun kututup. Rasanya sedang tidak semangat meladeni pembeli. Mending ngadem di masjid pondok saja. mendengarkan semakan hafalan para santri yang aduhai merdu sekali. Bikin hati adem dan pikiran longgar.

***

Oya, aku ini tinggal di Karas, Temboro, Jawa Timur. Rumahku dekat dengan Pondok Al-Falah. Posisi rumah yang dekat dengan pondok ini menjadikan berkah tersendiri bagiku. Aku bisa membuka warung kopi sekaligus jualan buku bacaan. Tentu saja warungku laris karena konsumenku adalah santri pondok yang jumlahnya ribuan. Apalagi jika para ustaz datang sekadar ngopi dan bertukar pikiran. Bisa-bisa, aku panen duit. He-he-he ….

Aku pun bergegas menuju masjid pondok. Dari jauh, terlihat para santri dengan gamisnya duduk bersila sambil memegang al-Qur’an. Kupercepat langkah saat ada seseorang melambai.

“Sini Mas!” pekik salah seorang santri padaku.

Aku tersenyum dan menuju ke arahnya.

“Ngapain kok di luar?”

“Habis dari kamar kecil.”

“Oh,” ucapku sembari melongok ke dalam masjid. “Ustad Salman di dalam?” tanyaku pelan, takut mengganggu konsentrasi para santri yang sedang menyetorkan hafalan. Ustad Salman adalah salah seorang pengajar di Pondok Al-Falah, beliau mengajar tahfidz atau hafalan Al-Qur’an.

“Ada, itu beliau lagi terima setoran.”

“Kenapa nyari Ustad Salman? Lagi galau ya?”

“Anak kecil sok tahu!”

“Lha itu, muka Mas Andik kusut kayak baju nggak disetrika. Tambah jelek tau!”

“Dih!”

“Jangan marah ya, orang sabar disayang calon istri!”

“Udah sana! Setoran!” ucapku pada santri sok tahu itu sembari menyorongkan tubuhnya agar segera menjauh dariku. Nggak tahu apa aku lagi sebal dan mau ngadem? Hhh ….

“Iya, iya!” dengan bibir sedikit monyong, akhirnya santri sok tahu menjauh dan kembali duduk bersila, mengantri di belakang santri lain.

Setelahnya, aku menuju kamar mandi untuk bersuci dan bersegera menunaikan salat Dhuha dilanjut salat hajat di pojok serambi.

Ya Allah … kirimkanlah satu saja wanita soliha yang mau menerimaku apa adanya. Aku janji, akan membimbingnya untuk senantiasa dekat denganMu.

Seusai salat hajat dengan niat dimudahkan mendapat jodoh, aku mulai merapal doa. Antara malu dan berharap, aku utarakan semua ganjalan di dalam hati pada Allah, Sang Maha Pengasih.

Ya Allah, jika pun jodohlku jauh di luar daerah, maka aku mau ya Allah. Aku mau. Tuntunlah aku hingga sampai padanya. Bimbinglah aku hingga bisa mengetuk pintu rumahnya dan mengajaknya menyempurnakan agama.

Aku semakin tertunduk. Merasa kecil, merasa lemah.

Kasihan Emak, kasihan keluarga. Mereka khawatir aku menjadi bujang tua.

Semakin lama berdoa, semakin bergetar hatiku. Terbayang wajah Emak yang keriput. Juga saudara-saudaraku yang telah berkeluarga.

“Ya Allah … kabulkanlah ….”

***

Tibalah saat itu, aku menemukan sebuah tulisan bertema jodoh. Penulisnya berasal dari Purworejo, Mbak Sri namanya. Memang sih, aku belum lama kenal. Baru beberapa hari yang lalu aku add akun fbnya karena tulisan-tulisannya sangat menyentuh dan sesuai dengan kondisiku yang sedang galau masalah jodoh.

Dengan berdebar, akhirnya aku nekat inbok di messenger. Mau ditanggapi atau tidak, aku sudah masa bodoh. Yang penting niatnya lillah.

Alhamdulillah, setelah chat pertama terkirim, tidak terlalu lama, Mbak Sri membalas. Kita pun berbalas chatting sekadar basa-basi dan kenalan.

Ternyata tanggapannya baik. Ramah seperti saat membalas komen di postingannya. Dalam hati berkata, sepertinya, dia orang baik. Maka, aku pun mantap untuk menyampaikan niat ingin dibantu mencari jodoh.

Dan, aku pun kembali berdebar setelah pesan panjang kukirim. Intinya aku mau segera nikah dan minta dicarikan calon.

Titik tiga di messenger pun bergoyang-goyang. Itu berarti, lawan chatting sedang mengetik.

[Serius?]

[Bisa lihat KTP?]

Dua pesan sekaligus segera kubaca, tentu saja masih dengan hati berdebar.

[Serius Mbak. Demi Allah]

[Sebentar saya foto dulu KTPnya]

Oke, fix! Syarat yang diminta Mbak Sri aku penuhi. Menulis biodata komplit dengan foto KTP, foto warung, juga fotoku.

Bismillah, aku kirimkan persyaratan melalui email. Tentu saja syarat yang diminta kutulis dengan sejujur-jujurnya. Aku yakin, ikhtiar dengan kejujuran akan mendapatkan kebaikan.

Entah apa yang terjadi, setelah mengirimkan persyaratan pada Mbak Sri, waktu terasa sangat lama. Satu minggu menunggu jawaban dengan hati tak keruan. Warung kopi yang biasanya buka hanya sampai jam sepuluh, dalam satu minggu itu aku buka hingga hampir jam satu. Hanya satu alasan: aku tidak bisa tidur dan butuh teman untuk melewati malam.

Doa pun tidak pernah luput kupanjatkan. Entah seperti apa rupa calon istriku aku telah mantap akan menerima jika ia pun menerima keadaanku.

Hari yang ditunggu pun tiba. Melalui messenger, Mbak Sri memberi kabar bahwa ada calon untukku.

[Tapi, ini belum final ya? Njenengan baca dulu aja biodata akhwatnya. Ntar kalau cocok, kasih kabar barulah kita lanjutkan prosesnya]

Hampir saja kutulis balasan: [Aku cocok, asalkan akhwatnya mau aku pasti mau] tapi urung. Aku pun terbahak. Bahagia, sangat bahagia. Yah, meskipun baru tahap kenalan lewat biodata. Tapi kan ada harapan. Begitu pikirku.

Satu demi satu proses perkenalan lewat media sosial kujalani dengan hati suka cita, sampai kemudian Mbak Sri memintaku untuk berkenalan secara langsung. Kami menyebutnya nadhor atau melihat calon pasangan.  

Ya Allah, bagaimana ini?

Aku kembali teringat dengan penolakan demi penolakan yang lalu. Bagaimana jika setelah melihatku, si calon mundur? Aku yang gendut dan hitam, apakah bisa dia terima?

Memang foto yang kukirim foto asli. Bukan foto palsu dengan aplikasi cerdik yang bisa membuat wajah kinclong seketika. Tapi, seasli apa pun sebuah foto, pasti akan ada bedanya dengan wujud asli.

Ya Allah … tolong aku ya Allah ….

***

[Kapan jadinya?]

Pesan messenger dari Mbak Sri kubaca. Jika biasanya aku langsung membalas dengan secepat kilat, kali ini tanganku gemetar. Butuh beberapa menit untuk mengetik jawaban.

[Tak musyawarah dulu sama keluarga ya, Mbak]

Akhirnya sebuah jawaban kukirim. Jawaban diplomasi sebetulnya, karena keluarga pastilah langsung setuju dan akan mendukung. Tapi aku butuh waktu untuk menyiapkan mental.

[Dua hari lagi ya kasih kabar. Bisa to?]

Kembali pesan dari Mbak Sri kubaca dengan hati tak karuan.

[Insyaallah]

Percakapan pun terputus. Aku diam beberapa saat. Mengatur napas dan ritme detak jantung.

Ngopo e ngalamun?” tanya Paklik yang kebetulan sedang ngopi di warungku.

Tiba-tiba saja aku ceritakan semuanya pada adik ibuku itu. Di sela-sela seruputan kopi dan bunyi kres kres dari gorengan yang dimakan, Paklik manggut-manggut.

Gak wani dewek e?” tanyanya kemudian. “Tak kancani!”

Dan hari itu, aku dan Paklik menyampaikan kabar sekaligus meminta izin pada Emak. Rencananya, aku dan Paklik akan ke Purworejo esok lusa, hari Sabtu selepas zuhur.

Alhamdulillah Ya Allah …” ucap Emak sangat gembira. “Tak doakan cocok dan jodoh.”

Tentu saja emak sangat bahagia mendengar kabar itu. Tak henti-hentinya ia tersenyum dan mengelap air yang merembes di ujung matanya.

Bersambung …

Oleh: Sri Bandiyah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan