“Kuliahmu bagaimana? Mau bayar pakai uang dari mana?” Ucap Ibu saat kusampaikan keinginan untuk resign dari pekerjaan.

“Allah Maha Kaya, pasti akan ada rezeki,” jawabku mantap.

Kulihat Bapak dan Ibu sedih. Tentu mereka memikirkan masa depanku. Akan jadi apa aku jika sampai berhenti kerja dari BUMN.

***

Empat tahun aku telah bekerja di bank. Empat tahun pula aku dedikasikan seluruh tenaga dan pikiran untuk kemajuan bank ini. Setiap hari pekerjaan begitu banyak. Senin hingga Jumat aku berkutat pada laporan data dan data. Sabtu-Ahad pun yang seharusnya bisa digunakan untuk istirahat dan bercengkrama dengan keluarga sering terampas. Sering lembur di kantor hingga larut malam.

Maklum, di kantor cabang aku adalah satu-satunya tenaga administrasi. Tadinya ada dua orang bersama seorang teman. Tapi, karena suatu hal, temanku itu dimutasi di bagian IT. Tinggallah aku seorang diri dengan begitu banyak pekerjaan yang menumpuk. Yah, meskipun Pak Manager tetap mendampingi dan memberikan support.

Segala kepenatan kerja awalnya bisa hilang ketika melihat besaran gaji yang kuterima. Tentu gaji sebagai administrasi di sebuah Bank milik BUMN membuatku tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan uang. Berkarier dan mendapat gaji yang besar, apalagi yang kuinginkan? Terlebih cita-cita untuk membahagiakan orangtua dengan meringankan kewajiban mereka akan kebutuhan rumah tangga telah dapat kulakukan.

Tapi … entah datang dari mana, suatu ketika sebuah keresahan muncul. Sebuah kesadaran yang dikirimkan Allah tentunya. Ada pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul menggangguku berhari-hari. Kenapa gaji yang banyak itu cepat sekali habis? Biaya kuliah, kebutuhan sehari-hari, tuntutan fashion, alat make-up, dan serentetan kebutuhan yang dahulu sama sekali tidak masuk dalam daftar.

Pertanyaan itu semakin sering membuatku gusar. Semakin hari aku semakin dibuat tidak nyaman. Hatiku pun bertanya-tanya, “Apakah gaji ini nggak berkah? Kenapa dengan gaji yang besar aku terus saja merasa kekurangan?”

Keadaan ini berlangsung selama setengah tahun. Hingga pada semester kedua tahun 2016, saat hati, pikiran, jiwa, dan raga sudah tidak mau lagi diajak berdamai dengan pekerjaan dan perasaan ini begitu kuat untuk segera mengambil langkah yang lain.

Bermunculanlah di benakku berbagai pertanyaan, kredit yang aku ambil untuk beli motor? Penampilan dahulu yang memakai rok lama-lama berubah menjadi celana? Polesan yang membelai rata wajah ini? Waktu shalat, tilawah, majelis ilmu, untuk keluarga, untuk bersosial yang tergadai di kantor? Dan, pertanyaan terbesarnya adalah tempat kerjaku selama ini. Aku ada di dalamnya hampir empat tahun lebih.

***

Bank konvensional yang di dalamnya penuh dengan bunga. Bukan bunga yang indah di mata apalagi di surga. Bunga ini adalah riba yang ada di Surat Al-Baqarah ayat 275-281 yang artinya,

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Tak kuat aku membaca ayat selanjutnya. Menggigil seluruh badan tak mampu membuat alasan bahwa aku berada di dalamnya.

Ya Allah, tolong aku. Apa yang harus aku lakukan? Aku nggak mau mati dalam keadaan masih bergelimang riba. Ya Allah … tolong …. Rengekku di setiap salat.

Kematian selalu terbayang setiap saat. Ketika malam datang, perasaan jika kedatangan malaikat maut selalu membayang.

Tapi, biaya kuliahku, adikku sebentar lagi kuliah, kewajibankewajibanku pada orangtua, tanggapan saudarasaudara, juga para tentangga. Bagaimana ini ya Rabb?

Setiap shalat, kubenamkan sujud lebih dalam. Kuresapi betul ayat agung iyyakana’buduwaiyya kanasta’iin sambil memohon kemudahan untuk bisa segera keluar dari kubangan riba.

***

Waktu terus berjalan dan doaku tak pernah berhenti. Beruntung kemudian ada WA grup yang berisi orang-orang dengan niatan yang sama. Baik grup WA intern Kutoarjo maupun grup WA yang beranggotakan selindo (seluruh Indonesia).

 Masyaallah di tengah kegalauan hati, Allah kirimkan banyak teman yang bisa saling menguatkan. Berbagi pengalaman dari teman beda Kantor Cabang hingga Kantor Wilayah. Bagaikan hujan yang turun dari langit, dalam waktu yang hampir bersamaan kami semua merasakan hal yang sama. Hingga bisa kunamakan inilah hujan hidayah. Karena tak hanya aku saja yang merasakan, ternyata banyak juga teman yang akhirnya sadar bahwa kita berada di taman bunga yang mengerikan.

Inilah salah satu nasrullah (pertolongan Allah) diantara banyak nasrullah lainnya. Kemantapan hati semakin menjadi. Keberanian semakin berapi. Bismillah, kuketik perlahan surat yang berisikan tentang diriku menyerah untuk tetap bekerja di taman bunga ini.

Kubawa surat tersebut bersama dengan pernyataan diri secara langsung kepada Pak Manager di ruangannya. Kuluapkan apa yang ada di dalam hatiku saat itu, tak terasa air mata mengalir bahkan sampai bibir ini takkuat berbicara. Sungguh Allah Maha Agung, rasa yang terpendam, akhirnya tersampaikan juga.

Beliau paham dan menerima keputusanku, walau sepertinya wajah beliau menandakan rasa cukup keberatan. Surat tersebut tertanggal akhir Februari 2017. Aturannya, bisa berhenti bekerja setelah satu bulan surat tersebut dibuat. Itupun jika disetujui.

Setelah surat masuk ke sekretariat, aku pun dipanggil untuk menghadap Pak Pinca (Pemimpin Cabang) dan beliau meluncurkan beberapa pertanyaan. Tentu surat tersebut beralasan untuk melanjutkan kuliah, karena secara administratif kurang memungkinan jika aku beralasan karena riba.

Aku khawatir jika banyak mudharatnya karena pemahaman ini tidak bisa langsung diterima oleh teman-teman saat itu. Namun, alasan ini tidak serta merta berbohong, karena aku memang kala itu belum selesai kuliahnya, sedang proses menuju skripsi.

Aku sampaikan alasan terbesarku secara lisan kepada Pak Pinca bahwa ini masalah keyakinan dan aku sudah tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini lagi. Tentu saja aku sampaikan dengan pelan dan yakin. Alhamdulillah, Pak Pinca, Pak Manajer Bisnis, Pak Manager Operasional pun paham dan memaklumi.

Tiga per empat hati ini terasa plong. Tinggal menunggu sisa-sisa hari hingga genap satu bulan.

***

Kulihat Bapak dan Ibu masih terdiam, namun perlahan bibirnya mulai bergerak. Dengan nada suara yang berat, mereka berucap mengizinkan dan menerima keputusanku.

Ya Allah … hatiku semakin haru. Aku yakin semua kemudahan ini datangnya dari Allah. Sungguh haru mempunyai orangtua yang pengertian. Orangtua yang menghargai keputusanku, memaklumi keadaanku, dan tetap memberi kesempatan aku untuk memilih jalan hidupku.

***

Akhir Maret 2017, tepatnya tanggal 27.

Alhamdulillah, aku resmi menjadi Ex Pegawai Bank Konvensional. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tattimusshaalihaat. Ini semua karena Allah. Betapa Allah Maha Sabar membimbing hamba-hamba-Nya. Allah biarkan aku selama hampir 4 tahun lebih di Bank Konvensional untuk mendapatkan ilmu dunia, walau aku yakin aku banyak melakukan dosa, tapi Allah masih tetap memberi aku rezeki berupa uang, kasih sayang orang tua, saudara, dan tetangga, kesehatan, bisa kuliah, punya banyak teman shalih di majelis-majelis ilmu dan akhirnya Allah memberi aku kesempatan untuk bertaubat habis-habisan. Fabiayyialaa irabbikumaatukadzibaan.

Sungguh teramat luas bumi, rezeki, dan kasih sayang Allah. September 2017, Allah berikan aku lapangan kerja baru di SDIT Ulul Albab Purworejo, setelah sebelumnya aku sempat berdagang ke sana ke mari menjajakan produk teman kerja sekantor dulu.

 “Menjadi guru di SDIT itu seperti jihad mbak, gaji kecil tapi amanahnya luar biasa,” ucap istri mantan bosku dulu. Oya, bosku ini juga resign dari Bank Konvensional.

Inilah yang dinamakan wujud rezeki tak mesti berupa nominal. Karena yang kukejar hanya halal bukan nominal. Yang kuinginkan adalah taat bukan tarkat dan martabat di depan manusia.

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.

Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.

Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An-Nisa ayat 100)

Oleh: Vivi Nur Andiana.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: