Ya Allah, Kapan Kami Punya Rumah?

Bagi pasangan yang telah menikah, memiliki rumah sendiri adalah berkah yang tiada terkira. Tidak lagi merepotkan orangtua. Dapat belajar bertanggungjawab, mengelola rumahtangga yang mandiri. Tetapi, bagaimana dengan yang belum mampu? Masih numpang orangtua atau mengontrak? Sabar! Ya, mau bagaimana lagi. Hehe.

Usia pernikahan saya dan suami sudah menginjak tahun keenam, tetapi, belum memiliki tempat tinggal pribadi. Dua tahun awal pernikahan, kami mengontrak. Ketika itu kami masih sama-sama bekerja. Hingga akhirnya saya memutuskan resign setelah melahirkan. Selang sehari saya keluar kerja, suami di PHK. Masha Allah, ujian. Bagaimana dengan biaya kehidupan kami sehari-hari? Mimpi kami ingin membeli rumah pun, sementara harus tertelan.

Kami terpaksa kembali tinggal bersama orangtua, setelah usaha dagang yang dirintis suami gagal dan tabungan kami ludes. Pun karena hingga sekian lama suami masih belum mendapat pekerjaan. Malu sebenarnya, sungkan, karena sudah merepotkan dan menambah beban. Setelah setahun lebih menganggur, akhirnya suami bekerja kembali, di pabrik gula rafinasi di Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Alhamdulillah.

Kini, hampir empat tahun kami berpindah-pindah kontrakkan. Bosan sebenarnya. Ingin memiliki rumah tinggal sendiri. “Kenapa nggak ambil perumahan saja, seperti Si Fulan?” tanya seorang teman pada suatu hari. Serentak kami menggeleng. Dana kami tidak cukup untuk membeli kontan, sementara mengangsur, kami takut pada riba.

Kami berikhtiar, mengumpulkam sedikit demi sdikit rezeki untuk membeli mimpi yang sudah cukup lama dipendam; memiliki rumah. Dimulai dengan membeli sepetak tanah terlebih dahulu. Berikutnya, nyicil bahan bangunan.

Ternyata, ujian kembali datang. Tanah yang kami beli, bermasalah. Hampir satu setengah tahun, surat tanah tak kunjung diberikan. Kami khawatir. Berkali-kali mendatangi kediaman pemilik tanah, tak mendapat respon. Kami sempat takut orang itu menipu, kabur, karena terlalu banyak alasan saat didatangi. Belakangan diketahui, penjual yang kami temui, bukan pemilik asli tanah tersebut, melainkan hanya orang yang bertugas meratakan dan memadatkan tanah saja, sementara pemilik asli sedang berada di Kalimantan. Terkejut! Jadi, kami sudah kena tipu? Yaa Allah, bagaimana ini?

Kami datang kembali, menanyakan perihal kepemilikan tanah. Kami meminta hak kami dikembalikan saja, daripada tidak jelas begitu, tetapi orang tersebut terus saja berkelit dan berbelit-belit. Berbagai cara kami usahakan, termasuk meminta bantuan orang yang paham urusan tanah.

Suami meradang, uring-uringan, membayangkan uang 55 juta, hasil bantuan orangtua dan hasil berhemat harus raib begitu saja. Saya pun teramat sedih sebenarnya. Itu jumlah uang yang tak sedikit bagi kami, bertahun-tahun mengumpulkannya. Apalagi, ketika orangtua terus menanyakan perihal kejelasan tanah, dan saya semakin sedih saat menangkap nada menyalahkan dari ucapan Ibu. “Kamu sih, dulu nggak hati-hati sewaktu beli tanah.”

Ya Allah, padahal, dulu sewaktu survei lokasi kami sempatkan dulu bertanya pada warga sekitar tentang pemilik tanah dan jawaban mereka adalah kepunyaan Pak Sy. Pak RT dan beberapa saksi yang dapat dipercaya pun kami hadirkan saat menandatangani perjanjian jual beli. Tanah yang kami beli cukup luas dan dibagi menjadi enam pemilik, jadi satu surat tanah tersebut akan dibagi menjadi enam nama pemilik nantinya. Unit yang terjual baru empat, masih ada dua lagi. Setelah semua unit terjual, barulah bisa dipecah surat tanahnya dengan biaya pengukuran luas tanah yang lebih murah, daripada diurus sendiri-sendiri jatuhnya lebih mahal, konon begitu prosesnya, kami pun menurut. Tapi, ternyata? Yaa Allah, kami ditipu.

Setelah segala usaha kami lakukan dan doa tak henti kami panjatkan, kami pasrahkan semua pada Allah pemilik rezeki dan pengatur setiap kejadian. Saya percaya, ini semua adalah rencana Allah. Uang 55 juta tersebut pun, milik Allah. Jika Allah berkehendak mengambilnya, saya bisa apa? Allah tidak pernah bercanda, pasti ada hikmah di balik kejadian tersebut.

Selama satu setengah tahun itu kami tak putus berdoa. Pasrah, ikhlas, sabar. “Jika memang rezeki, tanah atau uang tersebut akan kembali menjadi milik kita, jika bukan, hanya bisa berusaha ikhlas. Belajar menerima, walaupun pahit. Percaya sama takdir Allah, Dia sudah mempersiapkan segala yang terbaik untuk kita, sekalipun dalam bentuk ujian.” Itu yang saya katakan pada suami. Sambil berusaha membesarkan hati saya sendiri sebenarnya, agar tidak kalut apabila hal tak menyenangkan terjadi. Saya tidak ingin meratap-ratap dan berduka berlebihan, jika uang yang cukup besar tersebut raib.

Beberapa bulan yang lalu, Allah menjawab doa-doa kami. Suami mendapat kabar bahwa Pak HM, pemilik asli tanah telah pulang ke Cilacap. Murka, karena tanah yang semula dipercayakan agar dipadatkan untuk kemudian dibangun hunian, malah disalah gunakan oleh pemborong pemadatan tanah tersebut. Orang-orang yang membeli tanahnya dari Pak SY, diminta datang ke rumah. Sisa pembayaran pemadatan tanah milik Pak SY, akan dipotong dan diberikan pada kami, para pembeli tanah yang sudah ditipu. Kami ditawari, mau dikembalikan dalam bentuk uang atau untuk membeli perumahan yang akan didirikan di atas tanah tersebut nantinya. Harga kontannya tak terlalu tinggi, tinggal membayar beberpa puluh juta. Tipe sangat sederhana.

Alhamdulliah, Yaa Allah. Masih rezeki. Kami pikir, telah raib. Akhirnya, setelah melalui kegalauan dan rasa takut luar biasa selama satu setengah tahun yang lalu, akhhirnya sebentar lagi kami dapat mewujudkan mimpi; memiliki rumah, walaupun tak luas, yang penting istana milik kami sendiri.

“Sesunguhnya, Allah telah menyiapkan tempat yang indah untuk kami, hanya saja kami harus sabar melalui jalannya untuk menuju ke sana.”

Oleh: Ranti Eka Ranti.

Tinggalkan Balasan