Ya Allah, Kenapa Aku Lahir dari Keluarga Miskin?

“Bu, mbok aku dicariin kerjaan di luar kota,” ujar seorang akhwat padaku suatu sore. “Di Solo juga boleh. Njenengan kan banyak kenalan to di Solo?”

“Loh, bukannya anti udah punya kerjaan bagus di sini?”

Dan mengalirlah cerita dari si akhwat. Tentang kekecewaannya pada keluarga, tentang cita-cita ingin kuliah yang kandas lantaran orangtua tidak mampu membiayai.

Lebih dramatis si akhwat menceritakan bahwa ia sudah tidak kuat menjadi tulang punggung keluarga. Ayah dan ibu hanya kerja serabutan, dan kakak lelakinya yang menganggur.

“Gajiku sebagai marketing di bank swasta habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga Bu. Aku udah males!” ucapnya dengan emosi. “Karepku, aku iku pengen nabung biar bisa kuliah.”

Aku sengaja tidak banyak menanggapi curhatannya. Hanya respon menyimak dan senyum selalu kuberikan setiap kali dia bercerita. Aku sadar, memberi nasihat seseorang yang sedang dirasuki amarah tidaklah berfaedah.

Minggu berganti, dan si akhwat kembali datang. Masih dengan cerita yang sama seputar keinginannya lari menjauh dari keluarga. Tapi sudah tidak terlalu emosional seperti saat itu.

“Mbak,” panggilku sehalus mungkin. “Anti itu super loh dipercaya sama Allah untuk ngelakoni urip sing koyo ngono iku (Menjalani hidup yang seperti itu).” Kulihat si akhwat mulai menyimak. “Tidak semua orang kuat dan sanggup, dan anti terpilih.”

Aku pun bercerita, dan akhirnya kami sama-sama merenunginya. Kisah tentang seorang akhwat yang cita-cita dan keadaan keluarganya hampir mirip dengannya. Sama-sama miskin.

Dia anak pertama dari empat bersaudara. SD hingga SMA dia ikut nenek, biaya sekolah ditanggung bersama antara si nenek dan paman dari pihak ayah. Mendekati kelulusan SMA dia berusaha sekuat tenaga agar bisa kuliah.

Segala cara ia lakukan dari mendaftar PMDK dengan potongan khusus hingga uji coba tes masuk sekolah kedinasan yang gratis. Apa dia berhasil? Ternyata tidak. Bahkan ketika jadwal belajar ia tambah dan ibadah ia kencangi tetap saja ia gagal masuk universitas negeri.

Apa tanggapan orangtuanya?

Tentu orangtua menyarankan supaya tidak usah kuliah saja. Kerja dan bisa membantu orangtua menyekolahkan adik-adik. Tapi si akhwat ini keras kepala, ia tetap ingin kuliah. Walau pun belum terbayang nanti ketika sudah masuk kuliah bagaimana caranya ia bayar uang semester.

Singkat cerita si akhwat akhirnya bisa kuliah meskipun di universitas swasta. Awalnya ia bingung. Semester depan bayar SPP, bayar kos, dan untuk makan bagaimana?

Ketika bingung itulah ia pulang. Mengunjungi orangtuanya dan meminta restu mereka agar ia bisa kuliah. Sekaligus meminta maaf belum saatnya bantu untuk biaya sekolah adik-adik.

Ajaib! setelah permohonan maaf dan permintaan restu kepada orangtua, pintu-pintu kemudahan terbuka lebar. Tawaran ngajar privat anak SD datang begitu saja. Padahal ia adalah mahasiswa baru yang belum mendapat IP (Indek Prestasi/nilai rapot satu semester).

Setelahnya dan setelahnya tawaran itu semakin banyak, seminggu sampai lima kali ia harus mengajar privat sore hari. Belum juga berganti bulan, kakak tingkat tempatnya kos memberi ide untuk berjualan camilan di kos-kosan.

“Lumayan loh Dik buat tambahan. Kalau ada acara organisasi kan kamu nggak perlu bingung bayarnya.”

Dan bertambah lagi kesibukannya. Pagi setelah subuh dan mengaji, ia melesat ke pasar dengan jarak sepuluh kilometer dengan sepeda ontel pinjaman. Belanja snack ringan dengan modal awal Rp125.000. Dia membawanya ke kos dan menggunting serta menatanya dalam kardus yang sudah dibentuk sebagai tempat snack. Selanjutnya dia titipkan snack itu di sepuluh kos dan tiap tiga hari sekali dicek untuk diganti dengan yang baru.

Pada tahun berikutnya, si akhwat itu telah mendapat beasiswa BBM dari kampus. Ditambah penghasilan privat, jualan camilan, pulsa, juga menjadi marketing usaha kaos dan jaket dari pengusaha di sekitar kampus. Rezekinya ternyata cukup bahkan lebihnya bisa ia pakai untuk membeli oleh-oleh ketika pulang ke rumah.

Apa dia tidak lelah? Lelah tentu saja. bangun jam dua dini hari untuk munajat pada Allah dan menyelesaikan tugas domestiknya. Ke pasar, keliling ke kos-kosan, barulah ke kampus. Sorenya hingga maghrib dia ngajar privat. Selepas maghrib kembali ke kos untuk menjadi santri hingga jam sepuluh malam.

Apa dia menyalahkan orangtua atas keadaannya yang harus berjuang lebih keras? Tidak.

Dia jalani semua itu dengan riang. Menganggap apa yang dia alami adalah sebuah jalan yang paling baik untuk menjadikannya mandiri dan dewasa.

Selepas kuliah dan berkeluarga, saat teman-teman yang lain fokus mengurusi kehidupan pribadi masing-masing, ia masih harus membiayai adik-adiknya sekolah. Meringankan beban orangtua. Meskipun lagi-lagi ia harus berjuang lebih keras.

Kira-kira energi apa yang membuatnya tidak mutung (marah, putus asa)? Tidak menyalahkan orangtua dan keadaan?

Karena dia ikhlas. Ya, ikhlas. Berdamai dengan takdir, juga jangan lupa minta restu orangtua. Hanya itu rahasianya wahai ukhti ….

“Tapi sampai kapan Bu aku begini?” rajuk sang akhwat tidak puas dengan cerita yang aku sampaikan.

“Aku nggak bisa jawab kalau pertanyaan anti begitu,” jawabku. “Tapi, jika anti tanya, ‘Apakah Allah akan memberiku jalan keluar?’, aku tentu akan jawab: Ya!”

Aku tatap dalam-dalam mata si akhwat yang sudah basah. “Jalan keluar itu bukan hanya dalam bentuk anti akhirnya bisa kuliah. Jalan keluar itu bisa jadi dalam bentuk lain, dan aku tidak tahu apa jalan keluar yang akan Allah berikan pada anti.”

Hari itu, pada akhirnya si akhwat diam seribu bahasa hingga kemudian pamit pulang. Sampai saat ini, jika bertemu kami tidak pernah lagi membahas hal itu. Mudah-mudahan istiqomah selalu ya ukhti, jalan hidup yang Allah pilihlkan untuk kita pasti ada hikmah di baliknya. Yakinlah!

Oleh: Sri Bandiyah.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan