Ilustrasi dari Anak Soleh

Ya Allah, Kenapa Aku Sering Mimpiin Dia?

Usai sholat isya seperti biasa setelah wisuda satu bulan lalu, kebiasaanku berubah. Dulu biasanya kugunakan untuk menggarap revisi skripsi, sekarang kembali menekuni hobi lama──menulis novel. Baru hendak membuka laptop ada WattsApp masuk. Rupanya chat dari Indah.

Aku meraih ponsel, lalu membuka chat.

“Nov, kenapa ya kok Angga tiba-tiba muncul di mimpiku? Gara-gara itu, aku jadi kepikiran dia terus.”

Muncul di mimpi?

Aku tercenung selesai membaca isi chat Indah. Bukanya apa, tetapi aku pun mengalami hal sama seperti yang Indah alami. Bahkan aku juga pernah menceritakan kepadanya.

Mendadak ide menulisku lenyap, hilang bersama puing-puing pikiran kusutku. Setahun belakangan, tepatnya setelah bertemu kembali dengan teman SMA yang dulu pernah dekat. Malah kata seorang teman, dia pernah naksir aku. Bukannya kegeeran tapi aku merasakan hal itu juga. Terlihat dari cara dia memberikan perhatian berlebihan tapi aku pura-pura tidak tahu. Entah kalian percaya atau tidak, usai pertemuan itu aku sering memimpikan dia, sebut saja Ilham. Tanpa kuasaku sosoknya sering hadir di dalam mimpi. Karena keseringan mimpiin Ilham, lambat laun timbul perasaan yang tak pernah aku harapkan.

Aku menyukainya.

Kata temanku, sebut saja Nurul, dia pernah cerita kalau seandainya ada seseorang tiba-tiba sering hadir dalam mimpi kita ada beberapa kemungkinan. Pertama mungkin orang itu juga sedang memikirkanmu. Tapi aku rasa jawaban ini tidak, mengapa aku bilang tidak? Karena setelah pertemuan terakhir kemarin Ilham sudah berubah. Bukan Ilham yang dulu. Dia memang masih ramah dengan yang lain tapi tidak denganku. Bahkan di media sosial dia masih sering menyapa beberapa teman lain, atau sekadar meng-like status atau pun foto di instagram teman-teman. Sementara punyaku selalu terlewatkan. Entalah, itu hanya firasatku saja atau bagaimana.

Berita terakhir yang aku dengar dari salah seorang teman katanya Ilham sedang naksir cewek──adik kelas waktu SMA.

Kedua, kemungkinan ada hal yang belum selesai di antara hubungan kalian. Ini tak kalah ambigu. Maksudnya apanya yang belum selesai? Seingatku, dulu komunikasi kami baik-baik saja dan kami masih akrab-akrab saja. Kami putus kontak tahun 2015 saat dia mulai sibuk dengan kegiatannya dan aku menjalin hubungan dengan kakak tingkatku. Jadi masalah apa yang belum selesai? Aku tetap tak mengerti. Istilahnya kami menghilang masing-masing dengan sendirinya tanpa ada cek-cok sebelumnya.

Ketiga, karena sering memikirkannya. Untuk hal ini pun aku juga tak paham, karena aku merasa tak memikirkan dia. Meskipun aku agak bingung dengan perubahannya, namun hal itu sekadar bingung semata tidak sampai kuambil hati apalagi sampai larut memikirkannya. Anehnya tanpa diminta dan diduga Ilham kerap kali hadir di mimpiku. Kadang bisa lima hari berturut-turut, aku sampai bingung. Ada apa? Kenapa?

Sebuah kebetulankah?

Aku akui dulu kami memang pernah dekat namun hanya sebatas rekan organisasi, tidak lebih. Walaupun kata seorang teman yang terang-terangan bilang kalau dia menaruh hati padaku, namun karena pada saat itu aku memang sedang tak ingin terlibat suatu hubungan khusus, dan ingin konsentrasi pada organisasi dan sekolah, aku mengabaikan ucapan temanku begitu saja. Aku tak mau ambil pusing. Lagi pula pikirku, toh hubungan kita masih baik-baik saja.

***

Tahun 2016 kami dipertemukan kembali dalam sebuah acara reuni. Yang aku ingat ketika ia menyalami teman-teman dengan canda khas sifatnya yang humoris. Namun ketika bersalaman denganku dia seperti buang muka. Bahkan satu kata pun tak keluar dari mulutnya. Jujur aku bingung. Tapi aku cuek saja.

Selang beberapa hari ke depan dia hadir di mimpiku. Bahkan sangat sering, sampai sekarang pun masih.

“Kamu juga mengalaminya?” Aku membalas pesan Indah dengan perasaan kalut. Tak lama ponselku kembali bergetar.

“Iya, kira-kira kenapa ya Nov? Awalnya aku udah move on, tetapi sejak dia datang di mimpiku, aku kepikiran dia lagi.”

Aku diam. Membeku. Tidak tahu harus membalas apa karena aku tak juga mengerti dengan hal ini. Benar-benar aneh. Mungkin kalian akan menganggap serupa apalagi bisa tumbuh perasaan hanya karena mimpi. Aneh bukan?

Seiring berjalannya waktu, perasaanku berkembang pesat seperti dipupuk. Padahal aku sudah berusaha mengendalikan diri dan berdoa kepada Allah jika ini ujian mohon dijauhkan. Namun semakin aku berusaha keras melupakan, perasaan ini justru kian menebal.

Kini aku bertambah risau apalagi dia semakin sering datang ke dalam mimpi.

“Ndah, gimana Angga masih sering hadir di mimpimu?”

“Masih Nov, tapi alhamdulillah udah nggak sesering dulu.”

Aku tersenyum getir. Rasanya tangan ini berat hendak mengetik di atas touchscreen, seperti terbebani batu sekilo.

“Tapi kenapa Ilham belum juga hilang dari mimpiku ya Ndah? Padahal aku udah berusaha buat mengendalikan diri?”

“Istigfar Nov, mungkin ini ujian Allah semoga kita bisa lebih hati-hati. Jangan terlalu larut Nov,”

“Iya, Ndah, aku tahu. Tapi yang aku tidak mengerti, kenapa dengan mimpi bisa buat perasaanku jadi tak karuan begini. Aku takut Ndah, aku belum pernah seperti ini.”

“Yang sabar ya, Nov, kita sama-sama berdoa semoga semua ini lekas ada jawabannya. Aku juga tidak paham dan tidak bisa menjawabnya. Semoga kita bisa sabar dengan ujian ini.”

Aku menghapus air mataku yang tak terasa berlinangan sejak tadi. Sejujurnya sejak kehadiran dia di dalam mimpiku, aku jadi sering menangis usai sholat saat berdoa kepada Allah. Aku bingung bagaimana mungkin seseorang bisa hadir di mimpi dalam kurun waktu lama.

Oleh: Novia Yusnita.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan