Ini bukan kisah tentang ayah hebat. Bukan pula kisah tentang ayah teladan, apalagi ayah idaman. Ini adalah kisah seorang lelaki yang aku panggil Pae (Bapak). Lelaki jarang salat, perokok, dan sering berjudi. Tapi, sungguh aku sangat menyayanginya. Apa pun dia, bagaimana pun, dia adalah ayah yang darahnya mengalir padaku. Dia adalah ayah yang karena dekapannya, aku tumbuh. Menjadi makhluk mandiri yang kemudian atas kasih sayang Allah, sampailah Islam padaku.

Aku dan Pae adalah satu keluarga. Saling mendekap ketika payah, pun saling memeluk ketika bahagia. Allahummaghfirli waliwalidaya ….

***

Semasa kecil, Pae sering menyuruhku ke warung untuk membeli rokok. Diejanya merk rokok yang dia inginkan, dan aku akan mengikuti dengan bibir dan lidah mungil yang belum sempurna.

“G*dang garam f-i-l-t-e-r,” ucapnya mengeja nama belakang rokok agar lidahku tidak terpeleset.

“Rokok p-i-n-t-e-l,” ucapku mengikutinya.

Setelah mendengar ucapanku, ia tertawa. Masih sangat jelas, tawanya membuat kumis yang melintang di atas bibir menjadi lebih panjang. Gigi yang sedikit kuning karena kopi dan nikotin pun terlihat jelas olehku.

 Pae mengulang nama rokok itu dengan penekanan huruf f dan r. Butuh beberapa kali hingga akhirnya aku bisa. Meski setelahnya, aku tetap salah mengeja ketika sampai di warung. Ibu penjual akan tersenyum dan menowel pipiku dengan gemas.

Entah hingga usia berapa, Pae masih menyuruhku membeli rokok. Dia yang ketika itu berjualan nasi megono (nasi urap nangka muda, makanan khas Pekalongan) berangkat setelah ashar dan pulang menjelang subuh, selalu memberiku uang kembalian dari rokok.

“Masukin tabungan,” ujarnya sambil menyerahkan uang logam lima puluh rupiah.

“Asik!” teriakku girang.

Semakin besar, aku tidak mau lagi disuruh membeli rokok. Mendadak aku membenci asap yang ditimbulkan dari benda berbentuk silinder itu.

“Uhuk!” Batuk yang sengaja kubunyikan saat Pae menghisap rokok di dekatku.

Dengan masih memegangi rokok, ia akan mengacak rambutku dan pergi menjauh. Saat-saat itu, bagiku Pae adalah ayah yang pengertian.

Beberapa tahun setelahnya, ada satu kejadian yang masih sangat jelas kuingat. Usiaku saat itu sekitar delapan atau sembilan tahun. Kebiasaan memasukkan koin ke dalam celengan tanah tembikar masih rutin kulakukan. Bedanya, dulu aku memasukkan koin ketika mendapat upah membeli rokok, tapi saat SD, aku memasukkan koin dari sisa uang jajan.

Pae cukup baik kepadaku. Ia memberiku uang jajan seratus rupiah setiap hari. Dengan uang itu, aku bisa membeli empat macam jajanan. Atau, jika dibelikan permen, akan mendapat dua puluh biji. Jumlah yang fantastis untuk anak usia SD kala itu.

Aku ingat, Subuh di hari itu, Pae pulang dari berjualan lebih awal. Seperti biasa, ia memarkir gerobak jualan di depan rumah dan bergegas ke kamar. Aku yang baru bangun sembari mengucek mata kaget ketika mendadak Pae menyodorkan uang kertas berwarna hijau dengan gambar buah cengkih.

“Ditabung!” ucapnya dengan wajah sumringah. “Ayam jagonya biar kenyang,” sambungnya lagi.

“Uang?” tanyaku masih setengah sadar. Kuterima uang itu dengan pandangan takjub. “Dua puluh lima ribu rupiah,” ejaku sambil menguap.

Pae masih di sampingku. Mengambil sarung, menutup sebagian tubuhnya dengan kain itu dan bersiap tidur.

“Asik!” pekikku setelah sadar bahwa uang kertas yang diberikan Pae bernilai sangat banyak. Di masa itu, uang dua puluh lima ribu bisa untuk membeli sepasang sepatu dengan merk terkenal.

Gegas kumasukkan lembaran uang ke dalam perut si ayam jago. Pagi hari itu, hari terakhir aku mengingat Pae sebagai ayah yang perhatian.

Kejadian memasukkan uang kertas dua puluh lima ribu ke dalam celengan, aku ceritakan pada teman-teman di sekolah. Mereka sangat takjub mendengarnya. Saat jam pulang, salah seorang teman bercerita pada ibunya.

“Paenya Sri kasih uang selawe ewu loh Mak, (Bapaknya Sri memberi uang dua puluh lima ribu loh, Bu,)” lapor salah seorang teman pada ibunya. “Aku pengen juga,” rajuknya kemudian.

Bukannya menjawab pertanyaan si anak, si ibu justru mendekat dan bertanya padaku, “Bapakmu baru dapet togel ya?”

Apa? Togel? Aku tidak mengerti apa yang dimaksud ibu si teman. Maka tidak kujawab pertanyaannya. Hanya senyum sebagai pengganti jawaban.

Pulang sekolah aku bermain dan baru pulang menjelang ashar. Sekembali dari bermain, aku yang bersiap akan mengaji kaget ketika Si ayam jago yang baru tadi pagi makan uang dua puluh lima ribu, kini pecah berkeping-keping. Beberapa koin lima puluh perak terserak.

“Pae pinjem dulu ya?” tanya Pae padaku saat aku melihatnya sedang memunguti koin yang tersebar di lantai. “Nanti Pae ganti dengan uang yang lebih banyak,” bujuknya.

Aku yang masih bocah tidak paham apa yang diperbuat lelaki berkumis itu. Hanya tangis yang pecah saat ia pergi dengan seplastik uang dari si jago.

Setelah besar, barulah aku paham. Masa itu, lelaki yang kupanggil Pae sedang kecanduan judi. Keberuntungan menembus nomer togel di hari lalu, membuatnya semakin gila. Membeli togel dengan nominal yang lebih besar.

Sungguh, sejak saat itu, Pae yang jarang salat dan perokok tapi penuh sayang padaku, menjadi sedikit egois dan jarang tertawa. Hari-harinya di rumah kemudian diisi dengan ramalan angka. Pulpen dan buku sekolahku, kadang dipakainya meramal angka yang akan tembus.

Sedih, judi telah mengubah seorang ayah yang hangat menjadi ayah yang dingin. Emosi pun kerap tersulut ketika angka yang dibeli tidak tembus. Konsumsi rokok juga meningkat seiring stres akibat kalah judi.

Sejak saat itulah, kenangan tentang Pae menjadi gelap. Tidak ada lagi jejek memori yang melekat dalam ingatan.

Waktu berjalan, aku semakin besar dan bertambah wawasan. Sungguh Allah Maha Baik, anak seorang pejudi sepertiku, mendapat teman sekolah dan guru-guru yang baik, juga sekolahan yang memfasilitasi siswanya mengenal Islam lebih dekat.

Kelas satu SMA, aku masuk Rohis. Mengikuti kajian keislaman di dalamnya, diskusi, dan saling bertukar rasa. Satu tahun lamanya hingga aku paham, hal pertama yang harus kulakukan adalah memperbaiki diri dan orang terdekat.

Pae! Sesosok bayangan muncul. Sejak peristiwa pemecahan celengan ayam jago, aku tidak lagi berbincang dengannya. Hanya hal-hal standar seperti menyuguhkan kopi, memanggilnya untuk makan, atau memberikan surat sekolah. Selebihnya, aku menghindar dan tidak ingin dekat-dekat dengannya. Asap rokok dan dendam perkara ayam jago masih menjadi alasan paling dibenarkan oleh hatiku.

“Hikmah itu, barang berharga milik orang muslim. Maka, siapa yang menemukan, wajib membaginya. Terutama pada keluarga dan orang terdekat,” ucap Pembina Rohis saat kajian rutin setiap Jumat.

Aku takjim menyimak. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyelusup. Menggedor ego dan masuk ke dalam hati. Rasanya secuil dendam perkara ayam jago tidak ada artinya dibanding perintah Allah untuk menjauhkan keluarga dari api neraka.

“Hikmah dalam kategori petunjuk, sering disebut hidayah. Suatu kebaikan Allah yang menjadikan seseorang berubah menjadi lebih baik. Menjadi lebih dekat pada Allah,” tandas Pembina Rohis.

“Cara membaginya bagaimana Bu?” tanyaku tanpa malu.

Sambil tersenyum, ibu guru pembina Rohis menjawab, “Tunjukkan bahwa Islam itu indah. Kita sebagai seorang muslimah, harus ramah. Mengingatkan kekeliruan dengan santun dan yang paling penting, lakukan terus menerus.”

Aku mengangguk, terpikirkan beberapa hal yang akan kulakukan di rumah.

“Oya, jangan lupa berdoa,” tambah beliau. “Karena doa adalah senjata paling ampuh yang dimiliki orang muslim. Senjata yang Allah telah jamin. Pasti Allah kabulkan.”

Hari-hari berikutnya, mulai kubuka interaksi dengan pae. Kagok (ragu-ragu) memang saat pertama memulai. Tapi, dengan semangat yang masih menyala, bismillah … pendekatan itu kulakukan.

“Pae,” panggilku saat lelaki itu sedang tekun menulis angka-angka di kertas.

“Hmmm,” jawabnya tanpa menoleh.

“Di Patroli, warung yang jual togel digrebeg,” ucapku pelan. Jantung rasanya deg-degan. Mati-matian menahan diri untuk tidak terlihat gemetar.

“Ah, itu kan di Jakarta,” jawabnya santai.

Aku kehabisan kata. Mentalku belum siap menerima sikap tak acuh Pae. Pada akhirnya, pelan-pelan aku menyingkir ke belakang. Pae mulai menghidupkan rokok dan aku pamit dengan alasan pusing terkena asap.

“Pae, mboten jumatan?” tanyaku di lain waktu ketika azan berkumandang.

Ia melirik ke arahku sekilas. Tapi tetap diam dan melanjutkan ritual menghitung angka-angka.

Entahlah, satu minggu pendekatan dengan hati campur aduk. Nelangsa, kenapa baru sekarang kesadaran untuk mendekati Pae muncul. Dan aku, merasa tidak punya daya kecuali berbicara sedikit dan lebihnya larut dalam doa-doa ketika salat.

Ya Allah … hamba terbatas, tapi Engkau tak terbatas. Rengkuh Pae ya Allah. Panggil dia. Ketuk hatinya.

Hari berbilang, minggu bertambah menuju bulan. Telah lewat satu semester, belum ada perkembangan. Kabar baik satu-satunya hanyalah, kini aku lebih sering bercakap dengan Pae. Meskipun percakapan itu sebatas basa-basi.

Saat ghirah untuk terus mengajak Pae ke arah yang lebih baik semakin lesu, saat hati terus-terusan dilanda kecewa, saat itulah pertolongan Allah datang. Pergantian pemimpin di Kabupaten Pekalongan berdampak positif. Satpol PP atas mandat dari bupati, merazia warung-warung yang menjual togel dengan ancaman penjara.

Alhamdulillah … racun judi sedikit demi sedikit mulai dipangkas. Para bandar dan pengikutnya benar-benar kapok. Pasalnya, beberapa di antara para bandar mencoba menyuap aparat. Tapi, para aparat menolak. Perda bupati benar-benar ditegakkan.

Pelan, tapi pasti, Pae tak lagi membeli togel. Sekarang hari-harinya tidak lagi diisi ramalan angka. Sesekali, setelah pulang berjualan, aku berbincang dengannya. Aku tetap membujuk agar Pae sedikit mengurangi rokok dan mulai salat.

“Engko yen wis wayahe, Pae berhenti ngerokok, (Nanti kalau sudah waktunya, bapak akan berhenti merokok),” jawab Pae singkat.

Aamiin ya Rabb.

Oleh: Sri Bandiyah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: