“Ya Allah, lepaskanlah Pae dari rokok. Insafkanlah ia dengan sebenar-benar keinsyafan. Jagalah ia. Gerakkan hatinya agar senantiasa bersujud kepadaMu, lima kali sehari.”

Tiga tahun lamanya doa-doa untuk Pae kububungkan ke langit. Berharap dan terus berharap agar Allah berkenan mengabulkan doa itu.

Oya, ini adalah doa lanjutan setelah doa pertama agar Pae lepas dari judi terkabul. Doa ini pun, kuharap akan terkabul pada waktunya. Meski lama, atau pun sangat lama. Tapi, aku yakin, pasti Allah akan mengabulkannya. Dengan cara apa pun yang terbaik menurut-Nya.

“Ya Allah, dengan cara apa pun, lepaskanlah Pae dari rokok. Hamba mohon Ya Allah ….”

Doa itu laksana asap, membumbung, dan terus membumbung. Ia bergumul di langit, menjadi awan hitam yang siap menurunkan kesejukan air ke bumi. Kesejukan berupa terkabulnya doa.

Dan kita, hanya butuh kesiapan untuk menerima air itu. Siap untuk merasakan kesejukan sekaligus siap kalau pun ternyata badan menjadi kuyup.

[Pekan depan Pae operasi batu ginjal Mbak]

Pesan singkat melalui HP membuatku tercekat. Bayang-bayang rumah sakit dengan seorang lelaki kurus terbaring membuat dadaku berkecamuk. Aku yang saat itu kuliah di Solo dengan beasiswa, segera memutuskan segera pulang.

Sepanjang jalan, tidak ada yang kupikirkan selain Pae. Terbayang kembali beberapa masa yang telah lalu, ketika aku tidak menyukai laki-laki suami ibuku itu. Masa labil saat seorang anak mendambakan seorang ayah yang bisa menjadi pengayom sekaligus teladan. Tapi semua itu tidak kudapati dari dirinya.

Bahkan, terkadang aku malu. Kenapa mempunyai seorang ayah yang seperti itu. Tidak salat, suka judi, dan perokok berat. Sedangkan teman-teman sekolahku, mempunyai sosok ayah yang bagiku sangat istimewa.

Kubanding-bandingan ayah temanku dengan Pae. Ayah Si Itu, seorang tukang sayur yang kerja di Jakarta. Tapi sangat menjaga salat dan tidak merokok. Ayah Si Anu, pedagang di pasar, tapi setiap adzan berkumandang, tokonya selalu ditutup agar bisa salat ke masjid, berjamaah.

Beruntung, masa labil itu tidak terlalu lama mengukungku dalam ketidaksukaan pada sosok Pae. Allah Yang Maha Asih, mempertemukanku dengan seorang guru yang mengajarkan tentang arti berbakti pada orangtua, birrul walidain.

“Meskipun orangtua kita tidak salat?” tanyaku heran saat disampaikan tentang materi berbakti pada orangtua.

“Ya,” jawabnya dengan tersenyum. “Bahkan meskipun kafir,” lanjutnya.

“Bagaimana caranya?”

“Berbuat baiklah pada orangtua, doakan mereka. Patuhi jika perintah mereka tidak melanggar ajaran agama.”

Dan karena bakti itu, sedikit demi sedikit aku pun mulai mendekati Pae. Akhirnya, setelah pendekatan selama tiga tahun, aku dan Pae telah begitu akrab. Berbincang layaknya ayah dan anak. Menanyakan kabar, memberi perhatian, dan tentu saja saling memberi nasihat. Meski nasihat tentang rokok dan salat selalu Pae tanggapi dengan tawa dan pandangan mata yang tidak bisa kuterjemahkan.

Bis yang kutumpangi terus berjalan. Siluet pemandangan dari jendela seakan berganti beberapa peristiwa yang kualami bersama Pae. Tentang olok-olokku padanya karena gigi kuning akibat nikotin. Tentang permisalan uang rokok yang jika ditabung bisa untuk membeli mobil. Tentang asap rokok yang menjadi ancaman kesehatan orang lain. Ah, rasanya dada semakin sesak. Ingin rasanya segera sampai di rumah sakit.

Lelah dengan semua noltalgia tentang Pae, aku tertidur dalam bangku bis antar kota, Solo-Pekalongan.

“Habis! Habis! Terminal habis!”

Teriakan kondektur dan riuhnya para penumpang yang hendak turun membuatku terbangun. MasyaAllah … Alhamdulillah, sampai juga.

Bergegas kukemasi barang dan bersiap turun.

“Ke mana Mbak?” Belum juga aku turun, beberapa tukang ojek menghampiri. Mereka telah menunggu di pintu bis. Beginilah terminal, semuanya berlomba mencari penumpang.

Aku pun memilih seorang di antara mereka. “Bapak saget ngantar ke rumah sakit?” tanyaku pada bapak ojek yang paling tua di antara tukang ojek yang lain.

Setelah tawar menawar ongkos, beberapa menit kemudian, kami pun meluncur menuju rumah sakit.

***

Sampailah aku di ruang bangsal. Aroma obat dan amoniak sedikit menganggu pernapasan. Ada tiga bilik kulihat. Sebelum kaki melangkah masuk, Mae (ibuku) menyambut dan segera memelukku dengan mata basah.

“Pae udah nunggu-nunggu dari tadi,” ucap Mae padaku.

Aku mengangguk dan bergegas masuk ke dalam. Seorang lelaki yang sangat aku kenal terbaring di ranjang. Rupanya ia menyadari kehadiranku dan segera menoleh. Mata kami beradu, tatapan yang sama kutemukan. Tatapan yang tak mampu kuterjemahkan.

“Iki wancine Pae berhenti ngerokok, ini saatnya bapak berhenti merokok,” ucapnya sambil terus menatapku.

Aku masih ingat, dulu saat kusampaikan nasihat untuk berhenti merokok, Pae pernah berkata: “Mengko nek wis wancine, Pae ora ngerokok maneh. Nanti kalau sudah saatnya, bapak tidak akan merokok lagi.”

“Pae sudah punya alasan, kalau ditawari rokok sama teman,” ucapnya lagi.

Ya Rabbi … inikah alasannya? Lelaki itu tidak enak dengan teman-temannya di terminal. Tidak enak jika tidak merokok. Barangkali teman-teman tukang becak atau tukang ojek yang biasa makan di warung akan menganggapnya sok.

Saat seperti ini, aku hanya bisa diam. Berusaha sekuat tenaga menahan arus air yang akan menjebol dinding mata. Hanya tanganku sibuk memperbaiki selimut Pae.

“Nanti Pae diajari salat ya?” pintanya lagi. “Pae mau berdoa, mohon ampun sama Allah.”

Air mata yang kutahan dengan sekuat tenaga, akhirnya jebol. Menderas, hingga membasahi kerudung. Tangan yang sedari tadi memegang pinggir ranjang, kini berpindah mengusap pipi berkali-kali.

“Aja nangis,” pinta Pae.

Mendengar itu, tangisku semakin menjadi. Terbayang hal yang tidak seharusnya. Gagalnya operasi dan sebuah pemakaman. Rabbi … jangan sekarang, pintaku dalam hati.

***

Sepuluh hari Pae dirawat. Tujuh hari aku menungguinya. Aku mengajarkan cara tayamum dan salat dengan berbaring. Juga menemaninya berbincang. Menceritakan kisah orang-orang hebat yang mampu melawan penyakit ganas. Pae, dengan sisa-sisa sakit akibat laser yang dimasukkan ke kandung kemihnya, berusaha tersenyum ketika mendengar kisah yang kusampaikan.

Kadang, dengan tatapan haru, kulihat ia memandangiku saat pispot di bawah ranjangnya kuambil dan kubersihkan di kamar mandi. Tiga kali dilaser, Pae memang diminta buang air kecil melalui selang yang dialirkan ke pispot. Hari-hari awal setelah dilaser, pispot itu berisi urine yang sangat pekat. Warnanya mirip teh dengan endapan seperti tanah. Kata dokter, itu batu ginjal yang hancur dan terbawa urine.

Pada hari keempat aku menungguinya, Pae berulang meminta maaf pada semua keluarga. Kulihat wajahnya sudah semakin pucat. Tiga kali dilaser, menyebabkan ketahanan fisik melemah. Terlebih, rasa mual yang dikeluhkan sering membuatnya muntah. Akibatnya, makanan tidak ada yang masuk.

“Pae sabar.” Hanya itu yang berulang kali aku sampaikan padanya. Rasanya, tidak ada lagi kata-kata yang bisa kusampaikan selain itu.

Satu kejadian yang membuat bersyukur, dadaku sampai penuh keharuan, saat Pae tidak berdaya dan terus muntah, ia tetap memintaku menyucikannya dengan tayamum. Dia salat lima kali sehari.

Ya Allah … lihatlah, Pae sudah salat. Maka, berilah ia kesempatan ….

Saat-saat seperti itu, yang paling menolong perasaan dan pikiranku untuk tetap tenang adalah Allah. Doa, doa, dan doa. Terus kulantun baik ketika salat atau pun tidak. Tilawah Al-Qur’an setiap saat. Salawatan dan dzikir sebagai pengganti mata yang sudah tidak mampu terbuka saking lelahnya.

***

Pada hari ketujuh, Pae mulai bisa makan. Sudah tidak muntah lagi. Urine yang dikeluarkan pun tidak lagi pekat. Alhamdulillah … segala puji hanya milik Allah.

Hari-hari setelahnya adalah observasi dan menunggu kepastian kepulangan.

“Mbalik Solo sana, Pae wis mari, pulang Solo sana, bapak sudah sembuh,” ucap Pae ketika kutemani ia makan.

Izin kampus yang hanya lewat telepon dan email memang perlu kuperbaharui. Ada sedikit khawatir yang terselip, beasiswa akan dicabut.

Tapi bagaimana dengan Pae?

“Ndak usah khawatir, Pae janji salat lima waktu. Rokok juga stop,” janji Pae dengan senyum.

Akhirnya, tepat pada hari ketujuh Pae dirawat, aku pamit ke Solo, mengurus kuliah yang kutinggal selama seminggu.

Pada akhirnya, kabar baik itu kuterima. Tiga hari kutinggal ke Solo, Pae diperbolehkan pulang. Lagi-lagi, Allah sungguh baik. Memberikan kesembuhan untuk Pae. Hingga saat ini, Pae hidup sehat tanpa rokok. Salat lima waktu pun rutin ia kerjakan, alhamdulillah ….

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali, semakin pekat malam, artinya fajar akan segera datang. Ternyata ujian sakit itu adalah pembuka jalan untuk Pae berhenti merokok. Sungguh indah cara Allah memanggil kita semua agar lebih dekat dengan-Nya. 

Oleh: Sri Bandiyah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: