Kapan menikah?

Nunggu apa lagi?

Jangan pilih-pilih! Nanti dapatnya malah yang buang busuk.

Cung yang jomblo sepertiku silakan unjuk jari. Gimana rasanya dapat pertanyaan begitu? Kalau mood-nya sedang baik, pasti gak bakalan baper, setuju? Coba kalau dengar pertanyaan begitu saat hati lagi empet, jamin deh bisa sewot. Omelannya bisa sepanjang jalan lintas Sumatera.

Panggil saja namaku Ira. Gadis menjelang usia dua puluh sembilan tahun. Usia yang cukup rawan bagi sebagian orang. Dan tidak ada pertanyaan selain ‘kapan menikah?’ yang diajukan orang saat bertemu.

Terkadang aku berpikir, apakah status jomlo itu sangat mengkhawatirkan sebagian orang? Misalnya, akan menjadi virus mematikan? Ataukah jomblo itu menjadi beban negara, sehingga apabila jumlahnya semakin banyak akan menimbulkan kerugian? Di situ kadang aku merasa heran.

Jangan terlalu pilih-pilih!

Duh! Kenapa sih orang terlalu kejam menghakimi keputusan orang yang belum menikah? Membeli apapun pasti melewati proses pilih-pilih barulah terjadi transaksi. Bahkan urusan perut pun, orang tidak mau sembarangan memilih, konon pula pasangan hidup. Dari tidur sampai tidur lagi, bertemu orang yang sama. Bukankah penting untuk melakukan proses pemilihan?

Baiklah. Terlalu muak dengan hujatan tersebut, aku coba menurunkan standar. Semula menginginkan calon suami yang kualitas agamanya di atasku, turun menjadi menerima dia yang terbilang sama saja denganku dalam urusan agama.

Sebutlah namanya Ardi, lelaki seumuran denganku. Dikenalkan oleh seseorang, awalnya untuk urusan pekerjaan kemudian menjadi hubungan yang akrab.

Sedari awal kami memang tidak ada membicara tentang sebuah hubungan khusus. Semua mengalir apa adanya saja. Karena kami bekerja di bidang yang sama, obrolan terjalin hangat dan seru untuk dibahas sepanjang hari.

Dari topik pekerjaan, obrolan melebar ke urusan pribadi bahkan keluarga. Baik aku atau Ardi tidak pernah malu untuk jujur menceritakan kondisi masing-masing. Siapa yang tidak nyaman menemukan teman ngobrol seperti dia?

Kami saling mengirimkan pesan apabila salah satunya menghilang. Awalnya biasa saja, tetapi kelamaan aku merasa dia menjadi sosok yang istimewa. Tak mengapa bila dia masih kurang dalam urusan agama, aku belajar menerima kondisinya sekarang. Perlahan, akan kuajak dia bersama-sama mendalami ilmu agama. Bukankah banyak yang demikian?

Berbulan-bulan hubungan itu berjalan. Terkadang aku disadarkan oleh kenyataan bahwa kami bukan sepasang kekasih yang sedang menjalin hubungan spesial. Belajar menjauhi, tapi tetap saja dia memulai komunikasi bila aku tidak menyapa. Sebagai perempuan yang hatinya telah lama kosong, salahkah bila akhirnya menaruh harapan pada Ardi?

Setiap malam obrolan kami berbicara tentang masa depan. Terkadang saat dia down dalam urusan pekerjaan, selalu saja curhat ke aku dan seakan membutuhkan dukungan. Dengan segenap pengetahuan, terkadang aku bablas seperti mengajarinya untuk sabar dan ikhlas akan takdir Allah.

Dilanda kebimbangan. Aku mulai membuka hati, tapi tidak tahu dengannya. Diam-diam aku belajar menurunkan ego saat berkomunikasi dengannya, kata orang laki-laki tidak suka wanita lebih pintar dari dirinya. Kembali belajar memerhatikan lawan jenis karena sejak lama aku meninggalkan itu semua. Ah, ternyata aku keliru.

Saatnya tiba, aku merasa ada yang berbeda dari Ardi. Aku bisa merasakan dari setiap balasan pesan yang dikirimnya. Tidak tahu kenapa, biasanya memahami segala kekurangan Ardi, kini menjadi sensitif apabila pesan terlalu lama tidak dibalas. Aku suka mempermasalahkan kesukaannya. Inikah yang dinamakan firasat dari orang yang tulus menyayangi?

[Aku boleh bertanya padamu?]

Tidak sabar menunggu terlalu lama kuputuskan untuk bertanya. Aku sudah memutuskan, apapun jawabannya, saat itu ingin mengetahui kelanjutan hubungan kami.

[Boleh. Silakan.]

[Apakah kamu sedang dekat dengan seseorang?]

[Hehehe. Kok tumben nanya begitu, Ra?]

[Jawab saja. Aku merasakan ada sesuatu yang terjadi padamu, seperti sedang jatuh cinta.]

[Iya, memang aku sedang dekat dengan seseorang. Ya mohon doanya saja.]

Membaca pesan tersebut hatiku rasanya teriris. Kenapa tidak sejak lama aku bertanya apakah dia sendiri atau sudah punya kekasih? Aku merutuk sendiri.

[Semoga dia yang terbaik. Aku senang mengetahui kabar ini. Berarti firasatku benar.]

Tidak ada jawaban dengan kalimat hanya beberapa emoticon senyum yang kuterima.

Ya Allah … kenapa aku kecolongan lagi? Harusnya aku tetap komitmen tidak menjalin hubungan dekat dengan lawan jenis sampai pernikahan terjadi. Hanya karena tidak sabar mendengar ocehan orang-orang yang mengatakan aku terlalu pilih-pilih, bahkan sudah menurunkan standar pun tetap saja gagal. Sampai di sini, jelas maksudnya misteri jodoh, kalau belum waktunya tetap saja usaha yang dilakukan tidak berhasil.

Aku mengirimkan pesan dan meminta izin untuk memblokir semua akun sosial media yang terhubung dengan Ardi. Tujuannya hanya satu, supaya kami tidak lagi berhubungan. Teman yang menjadi tempat curhatku menyarankan agar pemblokiran itu tidak perlu terjadi, tapi rasanya hati ini tidak kuat. Tidak kuat untuk terus menemaninya dalam hal apapun tapi menikah dengan wanita lain. Aku sudah pernah mengalami hal serupa, sakitnya tetap sama seperti putus cinta.

Selepas keputusan itu, diam-diam aku menangis. Kecewa pada diri sendiri. Rindu karena terbiasa saling memperhatikan. Godaan untuk membuka kunci blokiran pun berhembus. Namun, aku berjuang untuk tidak kalah. Biarlah di sana dia menerka apa alasan sebenarnya aku meninggalkan? Atau bahkan mungkin dirinya tidak memikirkan sama sekali karena sudah menemukan sosok baru.

Benarkah karena aku terlalu menggurui sehingga dia mencoba mencari sosok baru untuk hidupnya selain aku?

Atau aku yang terlalu kegeeran menyangka kebersamaan kami selama ini adalah hubungan spesial?

Berat sekali rasanya. Dalam keterpurukan itu, aku mencari kajian singkat dalam Youtube. Memilih kajian ustadz gaul, konon katanya kajian yang beliau sampaikan sasarannya untuk anak muda.

“Perkara patah hati mah urusan biasa, ya? Masalahnya kita meluaskan hati atau tidak?”

Dengan suara khasnya, aku khusyuk mendengarkan. Benar apa yang dikatakan ustadz, barangkali aku tidak meluaskan hati melepas Ardi sehingga perasaan kecewa bahkan rindu masih terus mengganggu.

“Teman-teman pernah dengar doa ini tidak?”

“Robbisrohli  sodri wa yassirli  amri wah lul  uqdatan  min  lisani  yafqohu  qouli.

Yang artinya, ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka  mengerti  perkataanku. 

Selama ini aku tahu doa itu dibaca untuk urusan belajar atau ada urusan penting dengan seseorang tapi bukan perihal asmara.

“Kenapa teman-teman tidak menggunakan doa itu urusan hati? Minta deh sama Allah biar hati kita luas menghadapi kegagalan asmara.”

Kurang lebih poin penting yang disampaikan ustadz gaul begitu. Aku menerima nasehat itu dan langsung mempraktekkan.

“Ya Allah … maafkan aku yang khilaf. Ini salahku karena membuka hati di saat yang tidak tepat. Luaskan hatiku, ya Allah. Barangkali dia bukan sosok terbaik yang Kau takdirkan untuk mendampingi,” doaku dalam sholat. Dengan lelehan airmata dan malu kepada Allah, kupanjatkan doa nabi Musa seperti yang disarankan ustadz.

Semakin rajin aku berdoa, semakin lapang rasanya hati ini. Semakin ikhlas menerima kenyataan bahwa aku keliru. Semakin yakin bahwa keputusan menjauhinya bukan dalam rangka memutuskan tali silaturahim, hanya upaya menjaga hati. Menjaga hatiku agar tidak kembali jatuh dalam hubungan yang keliru. Menjaga hati Ardi agar kali ini hubungannya tidak gagal dalam menemukan pasangan yang tepat.

***

Dua minggu berlalu.

Sesekali masih saja rindu. Apalagi jika habis membaca artikel yang topiknya biasa kami bahas. Ardi memang belum benar-benar lepas dari ingatanku.

Namun, sesegera mungkin ber-istighfar untuk melenyapkan kerinduan itu. Aku percaya bisa melewati semuanya dengan baik.

Bersamaan dengan kisahku, jagat dunia maya digemparkan oleh berita pernikahan artis cantik yang selama ini ditandai dengan penampilan berkelas. Semakin heboh karena berita tersebut dikabarkan bahwa yang menjadi suaminya adalah mantan dari sahabatnya sendiri.

Disebabkan oleh kesibukan, selama ini aku memang sudah tidak pernah mengetahui pemberitaan artis. Kehebohan itu menggiringku untuk mencari berita dari kedua belah pihak.

Aku ber-oh-iya, ternyata teman artis cantik tadi memang pernah berpacaran dengan lelaki tersebut. Lima tahun menjalin hubungan, kandas oleh suatu sebab. Tak lama dari perpisahan tersebut, lelaki itu malah menikahi artis cantik tadi.

Salah? Tidak.

Inilah perjalanan takdir jodoh. Mengambil hikmah dari kisah mereka, terlepas dari komentar warganet yang pecah menjadi dua kubu. Dari artis cantik aku belajar tentang kesabaran, menunggu jodoh dengan kekuatan berpikir positif dan terus berkarya sampai akhirnya Allah menyandingkan dengan sosok yang tepat. Dari temannya artis cantik aku belajar, selama apapun menjalin hubungan, kalau bukan jodoh akan berpisah pada waktunya.

Untukmu yang sama denganku, mencontoh artis cantik atau temannya dalam perihal jodoh? Semoga kita semua yang kerap mendapat bully ‘tidak laku’, mampu meniru kesabaran artis cantik. Tetaplah sabar dalam ketaatan dan perbaikan diri, dan bersiap menyambut si dia yang telah tertulis dalam buku takdir.

***

Ditulis oleh Mawar Maisa.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: