akibat tidak jujur

Ya Allah, Nggak Lagi-Lagi Deh Menikmati Ketidakjujuran

Kuhitung sekali lagi, memastikan. Ini hitungan yang ketiga kali sebenarnya. Hasilnya tidak berubah sedikit pun, delapan puluh lima ribu rupiah. Aku masih berada di dekat toko ponsel, hanya sekitar sepuluh meter. Berdiri di pingir jalan dekat motor yang kuparkir. Bukan menunggu seseorang, tapi karena bimbang dengan pilihan hati: bersikap jujur atau masa bodoh dengan kebenaran yang kutahu?

Kutinggalkan toko tersebut karena transaksiku telah selesai dan ada pembeli lain yang datang, mungkin untuk hal yang sama. Membeli pulsa atau kartu perdana.

Aku punya dua pilihan sebenarnya. Kembali ke toko tersebut kemudian berkata jujur. Memberitahu bahwa kembalian yang diberikan salah dan berlebih bahkan sangat banyak, atau pilihan kedua meninggalkan toko seolah-olah tidak ada yang salah dan tanpa merasa bersalah. Toh bukan aku yang meminta kembalian dilebihkan, Mbak pelayan tokolah yang teledor.

Lama berpikir, akhirnya kuputuskan pergi dengan membawa sisa kembalian. “Rezeki kali ya ini namanya, lumayan,” gumamku.

Meski sebenarnya tak nyaman dan ragu-ragu tapi aku tetap merasa masa bodoh. Kekeliruan dan salah memang milik manusia, sengaja atau tidak. Tapi manusia, aku dalam hal ini, selalu memilih yang ia anggap baik dan menguntungkan.

***

Awalnya, sebelum kuputuskan membeli kartu perdana, aku bertanya-tanya tentang kurang dan lebih dari setiap model kartu yang terjejer di lemari kaca. Perempuan itu, si penjual atau pelayan toko, dengan sabar menjelaskan.

“Kalau yang ini?” tanyaku, sembari menunjuk kartu yang tertulis 25K.

“Yang Telkomsel?”

Aku mengangguk sembari memperbaiki posisi duduk supaya lebih nyaman.

“Kuota dua setengah Giga, ditambah pulsa lima ribu.” Penjual itu menjelaskan dan menambahkan dengan penjelasan lain yang lebih rinci.

Para penjual sepertinya memang diberi skill khusus untuk menggoda para pembeli. Ada saja hal menarik yang mereka sampaikan. beberapa dapat kupahami dan ada yang berlalu begitu saja.

Kutunjuk kartu Telkomsel yang tertulis 85K, “Kalau yang itu?” tanyaku lagi, belum puas.

“Itu lebih banyak lagi kuotanya Mas, Dua Belas Giga berlaku untuk sebulan dan Dua Puluh Empat jam.”

Belum juga aku mantap mau membeli yang mana, ada dua calon pembeli lain yang masuk. Keduanya perempuan. mereka sama halnya denganku, bertanya beberapa hal yang terkait barang yang akan mereka beli. Toko semakin ramai, dan aku pun buru-buru mengakhiri jual beli sore itu.

Kuputuskan membeli yang 85K. Diambilkannya kartu tersebut setelah kutunjuk.

“Berapa mbak?”

“Dua puluh lima Mas.”

Aku heran, apakah penjual itu sedang hilang fokus karena melayanni pembeli lain? Kenapa harganya tidak sesuai yang tertulis di kartu?

Kutanya ulang tentang harganya dan ia tetap menjawab 25K. Lalu ia kembali menjelaskan dua pembeli perempuan yang baru masuk.

Aku tahu dia salah menjawab. Salah memberitahu. Pasalnya beberapa menit yang lalu sebelum dua orang perempuan calon pembeli itu datang, Mbak penjual memberitahukan padaku kalau harganya delapan puluh lima ribu. Tapi, aku memilih diam saja. Tidak merespon lagi kalau kartu yang kubeli ini yang harga delapan puluh lima ribu.

Saat itu, dalam kepala dan hati, aku bertanya pada diri sendiri, ambil tidak, ambil tidak? Terus seperti itu sampai kuputuskan mengeluarkan dompet dari tas punggung. Membuka dompet kemudian menarik selembar duit kertas yang berwarna merah, dari beberapa lebar yang tersusun rapi di sana.

“Satu ya Mbak,” ucapku.

Mbak penjual mengambil uang tersebut lalu dengan cepat mengitung kembalian dan menyerahkannya ke padaku. Kujejerkan, ada selembar lima puluhan, tiga sepuluhan dan satu lima ribuan.

Setelah mengambil kembalian dari tangan Mbak penjual, kulipat uang itu lalu kujejalkan ke dalam saku celana sembari melangkah menjauhi toko.

Dalam jarak hampir sepuluh meter tepat di dekat motor yang terparkir. Kuhentikan langkah beberapa saat. Berbalik badan menatap toko itu lagi. Dalam hati berkecamuk lagi antara jujur dan berlalu.

Yang salah Si Mbak, apakah aku ikut salah? Ah, rezeki aja barangkali ini. pikirku dan pada akhirnya berbalik badan menaiki motor menjauhi toko, semakin jauh, semakin jauh kemudian menghilang di sebuah tikungan.

Di perjalanan pulang itu. Aku berhenti di Masjid untuk menunaikan shalat magrib. Setelah berwudu, aku langsung naik dan mengambil tempat di pojok. Mengunggu iqamah kemudian shalat jamaah. Tiga rakaat usai. Aku tidak langsung pergi. Membuka HP, membaca beberapa pesan yang masuk. Sempat juga membuka notifikasi dari beberapa akun sosmed. Mengeluarkan kartu yang baru kubeli itu dari kantung baju. Membolak baliknya sambil kuperhatikan. Itu saja. Lalu memasukkannya lagi sembari meraih tas yang tersandar di dinding kemudian berdiri dan melangkah keluar.

Sampai di tangga Masjid. Ada yang ganjil, sesuatu yang kucari sepertinya tak ada di sana. Kuingat-ingat lagi dari mana tadi menaiki Masjid. Aku berputar mengelilingi tangga Masjid, berbalik lagi, berputar kembali hingga tiga kali. Dan hasilnya sama, tidak kudapati. Sepertinya aku harus relakan kalau memang sudah hilang.

Dengan wajah kesal. Bibir monyong. Kuturuni tangga tanpa sandal yang dua hari kemarin kubeli dengan harga dua ratus ribu rupiah.

Jadi begini ya balasan dari ketidakjujuran?

Oleh: Abdul Rosyid.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan