Ya Allah, Semoga Aku Istiqamah Berhijab

Sudah sejak lama Intan ingin sekali memakai hijab. Semenjak dirinya masuk dalam organisasi ROHIS (Rohani Islam) di SMA-nya, ia jadi sering mengikuti kajian kelompok. Murabbiyahnya adalah alumni SMA tempatnya bersekolah, yang sedang berkuliah di perguruan tinggi di dekat sekolah.

Mbak Lala adalah nama murabbiyah tersebut. Intan memang beda sendiri, ia ikut ROHIS bahkan dengan kemeja pendek dan rok selututnya kala itu. Tapi mbak Lala tak pernah berkomentar atas gaya pakaiannya. Padahal, semua anggota organisasi yang perempuan sudah memakai hijab sebelum masuk. Hanya Intan dan satu temannya yang belum memakai. Itulah yang membuat Intan bertahan ikut organisasi ini.

“Tan, kamu pernah pengin pakai hijab, nggak?”

Ira, teman seorganisasi Intan di ROHIS yang sama-sama belum memakai hijab melontarkan pertanyaan saat mereka sedang makan di kantin. Intan terdiam sejenak. Ia memang ingin memakai identitas para muslimah. Namun, ia masih ragu apakah ia akan bisa istiqamah memakainya. Ibu pun masih belum ia ceritakan tentang kegiatannya di ROHIS ini.

“Pengen lah, Ra. Tapi, belum sekarang.”

“Aku pengen, Tan. Tapi aku pengen bareng berdua sama kamu.”

“Aku pikirin dulu ya, Ra. Nanti aku bilang sama kamu kalau sudah siap.”

“Oke, Tan. Kita butuh banyak persiapan juga. Kita bisa pakai baju bekas kakak kelas yang disumbangkan ke sekolah. Pasti ada baju panjangnya.”

“Wah, oke juga idemu, Ra.”

Senyum Intan dan Ira mengembang setelah diskusi ini. Mereka sudah tahu bagaimana mendapatkan baju seragam panjangnya.

***

“Mbak Na, lagi ngapain?”

Intan berdiri di depan pintu kamar kos kakak kelasnya ini. Dia berniat mencoba baju dan jilbab kakak kelasnya itu. Mbak Na memang sudah berhijab dari awal ia masuk SMA.

“Lagi baca aja Tan, sini masuk.”

“Maaf ganggu Mbak. Aku boleh pinjem baju olahraga sama jilbabmu, nggak?”

“Loh, buat apa Tan?”

“Begini, aku pengen nyoba pakai hijab, Mbak.”

Alhamdulillah, boleh banget Tan. Aku cari dulu ya.”

Setelah balik ke kamar indekosnya, Intan mencoba memakai jilbab yang dia pinjam. Dia mematut diri, apakah dia pantas pakai jilbab. Hmm, lumayan, pikirnya. Lalu dia mencoba memakai baju olahraganya juga dipadukan dengan jilbab tadi. Masya Allah, kok jadi beda gini ya?

“Mbak Na. Coba lihat, aku bagus nggak sih pakai hijab?”

“Wah, cantik Tan.”

Mbak Na melihat Intan sambil terpukau. Dia terkejut dengan penampilan Intan yang sehari-harinya cenderung macho.

“Sudah ilang machonya, Tan. Hahaha.”

“Ih, Mbak Na nih. Kok aku jadi aneh ya pas pakai baju ini. Kaya ada manis-manisnya gitu?”

“Halah, korban iklan. Tapi serius, kamu cantik Tan pakai hijab. Nggak coba diseriusin?”

“Masih takut, Mbak.”

“Tapi kamu ada rencana pakai hijab?”

“Iya, Mbak. Ada.”

Bismillah, banyak berdoa aja biar hatinya dikuatin, ya.”

***

Dan mulailah babak barunya Intan setelah dia menetapkan hatinya. Dengan kaos olahraganya yang pendek ditumpuk di atas kaos panjang berwarna putih. Lalu celana panjang pinjaman kakak kosnya, Intan berjalan malu-malu di koridor sekolah.

Masya Allah, Ukhti.”

Teman Intan, Rizal, nyeletuk sambil senyum-senyum kaget melihatnya dengan balutan seragam baru. Bukan baru karena membeli, tapi karena baru pernah ia memakai hijab di sekolah. Intan memang sehari-harinya menampakkan “kelaki-lakiannya”. Tomboy kalau kata orang-orang.

Intan pun nyengir. Rasanya aneh dan merasa bahagia karena celetukan ‘masya Allah’ tadi. Apalagi dipanggil “ukhti”. Padahal biasanya ia selalu dipanggil “cewek tampan”. Ada rasa dihargai sebagai perempuan dalam hatinya.

Hingga pada suatu sore di penghujung pergantian tahun, Intan diajak teman-teman indekosnya untuk pergi melihat kembang api di alun-alun kota. Hal ini adalah hal biasa yang para makhluk kos lakukan saat mereka tak bisa mudik. Berdekatannya waktu UAS (Ujian Akhir Sekolah) dengan libur tahhun baru memaksa anak-anak kos menghibur diri jauh dari orang tua dan merayakannya bareng-bareng di tempat terbuka, alun-alun misalnya.

Intan yang baru belajar pakai hijab, mencoba untuk memadukan baju panjang yang dimilikinya untuk hang out nanti, tapi apa mau dikata, bajunya masih minim. Dia pun kembali meminjam baju kakak kos, Mbak Na.

“Mbak, aku boleh pinjam baju buat pergi?”

“Oh mau lihat kembang api, ya, Tan?”

“Iya, Mbak. Tapi bajuku nggak ada yang pantas. Hehehe.”

“Boleh. Ini coba dulu aja.”

Akhirnya Intan mencoba beberapa baju dan memilih satu set atasan panjang agak longgar dan rok panjang semi jeans.

“Cantiknya ….”

“Ah Mbak Na nih, menggodaku terus.”

“Jujur, Tan. Beda banget sama pas sekolah. Lebih ukhti deh, hahaha.”

Walapun sedikit nggak nyaman, Intan tetap pergi dengan pakaian yang menutup auratnya itu. Teman-teman indekos yang mengajaknya pun jadi ikut-ikutan memakai hijab untuk menemani Intan. Solidaritas anak kosan kata mereka. Ah, Intan bahagia.

***

Assalamualaikum ….”

“Eh wa … waalaikumsalam.”

Sapaan salam bertubi-tubi menyerbu Intan di sepanjang jalan menuju alun-alun. Karena Intan dan teman-temannya tak punya kendaraan, pun tak ada angkot yang beroperasi di atas jam tujuh malam itu, mereka terpaksa harus jalan kaki. Tapi ternyata pengalaman ini membuat Intan merasakan sensasi yang damai. Tak pernah dia merasakan kedamaian seperti ini.

Dulu dia selalu digoda dengan celetukan, “Hai cantik, mau ke mana nih?” dan sebagainya. Namun, di penghujung tahun baru ini, celetukan nakal itu sudah sirna. Berganti dengan kalimat sapaan salam. Saling mendoakan, walaupun mungkin pemberi salam hanya menggodanya saja. Intan tak lebih bahagia dari hari ini. Ternyata, hijabnya menenteramkan hati. Hijabnya membuatnya damai.

Oleh: Dhita Erdittya.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan