Cinta hadir menyapaku kala itu, saat masih ABG. Setiap waktuku selalu terisi dia.

Aku mau makan, kuingat kamu.

Aku mau tidur juga kuingat kamu.

Aku mau pergi, kuingat kamu.

Oh, cinta … mengapa semua serba kamu.  [Duo Maia – Ingat Kamu]

Kids zaman now pasti tidak mengenal penggalan lagu itu. Ya, kalau pun ada seleranya jadul, hihi.

Kembali pada kisahku, indahnya pandangan pertama darinya begitu membiusku, terlebih senyuman manis miliknya saat menyapa. Aku berharap dunia berhenti saat itu juga. Saat itu aku hanya memendam dalam diam rasa cinta ini, tapi lambat laut dia mengetahuinya dari caraku bersikap.

Hari demi hari terlewati, perhatian demi perhatian tersampaikan. Perasaan ‘aneh’ itu berlanjut, sampai akhirnya aku menyatakan perasaan cinta itu, dan kami—aku dan pacar—melakukan aktivitas yang dikenal dengan PACARAN.

Horeee! Duar, cetarrr! *efek kembang api.

Orang-orang turut gembira atas hubungan tersebut, lucunya lagi kami ikut merayakan awal mula masuk dalam lingkaran setan.

Astaghfirullah.

Allah, sudah benarkah jalanku? (Halaman 73)

Dulu aku sama sekali tidak terpikir akan pertanyaan seperti itu. Nafsu sudah membungkus aktivitas kami dengan dalih Pacaran Baik.

“Enggak apa-apa, pacaran yang penting orangtua tahu.”

“Kami pacaran enggak macam-macam, kok.”

“Pacaran kan untuk semangat belajar.”

Percaya dengan label Pacaran Baik? JANGAN! Karena pada dasarnya, pacaran itu sudah tidak dibenarkan dalam Islam. Tapi uniknya, aku menyadari apa yang aku lakukan itu SALAH setelah menjadi mantannya pacarku.

Kenapa gitu?

Aku tidak ingin panjang lebar menceritakan awal mula pacaran, segala konflik yang ada, adegan-adegan so sweet yang tercipta, sampai hubungan ini kandas lantaran si pacar minta putus. Ya, karena dia minta putus dengan alasan, “Kak, aku mau putus. Ternyata selama ini ternyata kita salah. Pacaran itu dilarang oleh Islam.”

Jleb! Pertama kali dengar dia mengucapkan itu, hatiku berontak, nalarku seakan tidak menerima karena keluarga besar kami sudah tahu hubungan ini, dan ini bukan hubungan yang sebentar.

Tapi apa boleh buat, aku hanya bisa pasrah. Saat itu hubungan kami sudah LDR. Ya, hubungan aku dan dia selesai di tahun ke tiga, spesialnya lagi dia memutuskanku tepat di hari ulang tahunku.

Sedih, kecewa, inginku marah melampiaskan, tapi kuhanyalah sendiri di sini. Stop, stop jangan dilanjutkan. Ya karena pada dasarnya patah hati, sih. Sebab rasa cintaku yang sudah begitu besar, sehingga sangat sakit begitu kehilangan dia.

Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan di hati kami. (Halaman 71)

Namun, kesedihan, kekecewaan itu hilang, begitu ada kabar dari sahabatnya si mantan, kalau si Mantan telah menjalin hubungan sama seniornya di kampus. Ya, aku membaik saat itu juga. Bersyukur banget, karena dari sana Allah telah menyelamatkanku.

Sejak saat itu, aku komitmen untuk pacaran lagi, tapi setelah menikah. Pacarannya ya sama istri sendiri. Eaaa ….

Di antara tanda kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya. (Halaman 76)

Jadi, menurutmu pacaran tidak bermanfaat?

Bermanfaat untuk menemani nafsu yang hadir. Tahu enggak, kalau banyak hal-hal yang bisa saja terjadi karena pacaran? Oke, kita bisa saja berdalih enggak ngapa-ngapain, tapi apa itu bisa menjamin kita aman dari godaan setan yang datang dari segala arah, lalu menggoda iman kita.

Awalnya saling pandang, biasa.

Pegangan tangan, biasa.

Rangkul-rangkul sedikit, biasa.

Na’uzubillah

Dari hal-hal yang sudah dianggap biasa seperti itu, maka akan berakhir atau berujung pada aktivitas yang lebih berbahaya lagi.

Nafsu itu layaknya pencuri, Sungguh bahaya bila ia berhasil masuk ke rumah. Ia bisa mengambil barang berharga dan menaklukkan—bahkan melukai—penghuni rumah. (Halaman 104)

Mengerikan bukan, sesuatu yang disebut nafsu itu? Buktinya sudah banyak ia memporak-porandakan kehidupan manusia. Dari pacaran saja contoh kasusnya, ada perzinahan, aborsi, sampai bunuh dari terjadi bermula dari aktivitas terlarang itu.

Ya Rabb, maafkan aku yang pernah pacaran ….

Dalam hidup, ada tiga masa yang melekat pada kehidupan: masa lalu, masa kini, masa depan. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia belajar dari masa lalu, memberikan yang terbaik untuk masa kini, dan bermimpi untuk masa depan.

Nah, bagaimana buruknya saya, bagaimana lalainya saya di masa lalu, cukup sampai di sana. Jadikan pelajaran untuk masa depan yang lebih baik.

Aku telah menyelesaikan buku tentralogi Mardahtillah seri kedua, berjudul: Allah, Jangan Biarkan Aku Sendiri. Selama membaca buku ini si penulis Mas Dwi Suwiknyo benar-benar berhasil membawaku pada masa kelam di atas, masa di mana aku masih jahil dan menjadi BuCin (Budak Cinta).

Selain itu, buku ini bisa sebagai pengingat kita, Hei, Ada Allah bersama kita. Jangan pernah takut sendirian. Tapi pada kenyataannya, kitalah yang lari dari Allah, kita tak acuh pada perintah-Nya, kita yang lebih memilih hawa nafsu. Lalu, ketika musibah datang karena apa yang kita kerjakan, baru deh ingat pada Allah.

Bersamaan dengan membaca buku ini, saya merasa malu teringat masa-masa itu.

Waktu yang seharusnya untuk menyiapkan masa depan, belajar atau berkarya, terbuang hanya untuk pacaran.

Uang yang seharusnya aku simpan, atau sedekahkan, terpakai untuk biaya pacaran.

Hati yang seharusnya digunakan untuk terus berzikir pada-Nya, justru diisi oleh kerinduan yang gak jelas.

Ya Allah, sesuatu yang tidak bermanfaat saja harus aku jahui, terlebih sesuatu itu memang sudah dosa adanya. (Halaman 76)

Terus, gimana dong supaya bisa komitmen single?

Yakin, nih, mau komitmen single? Ntar, gak ada yang ngucapin selamat pagi lho, atau mengingatkan makan siang. Smartphone canggihnya kagak ada notifisikasinya gimana?

Apalagi pada zaman serba modern saat ini, mungkin akan dinilai cupu ketika tidak memiliki ‘gandengan’. Sungguh, ujian yang sangat berat untuk generasi millenial dalam berkomitmen memilih untuk sendiri (baca: single).

Sebab apa? Godaan bisa datang dari segala arah. Postingan teman-teman bersama pacarnya di media sosialnya. Di-bully oleh teman bermain karena jomblo.

Baiklah kalau serius untuk bertahan dalam single lillah (sendiri karena Allah), saya sarankan pakek banget untuk baca buku ini, kalian akan dibimbing (secara tidak langsung) sama penulisnya. Sebelum membaca buku ini, lapangkan hati dan pikiran kalian, lalu bersiap untuk menerima ilmu yang ada di dalamnya. Terutama pada pengendalian hawa nafsu.

Apalagi zaman sekarang tentunya sangat berbeda dengan zaman orangtua kita, lalu zaman nenek dan kakek kita. Apa hal yang dianggap tabuh, perlahan terkikis. Nah, perubahan masa yang sangat cepat ini membuat para orangtua tidak sanggup untuk mengikuti pergerakan anak-anaknya.

Apalagi masa remaja, iya kan? Masa di mana egonya sangat tinggi, darah sedang menggebu-gebu, pokoknya merasa akulah yang paling-paling-paling unggul dari yang lainnya.

Aku sebagai orang yang pernah pacaran sangat mendukung jika kamu memutuskan untuk berhenti mendalami aktivitas tersebut. Ya, itu kalau kamu siap untuk disayang Allah lebih dalam. Maksudnya? Begini kawan, Allah sudah mengingatkan jauh sebelum kita lahir, dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; karena (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (Qs. Al-Isra [17]: 32)

Nah, mulai sekarang ubah pola pikir kita yuk, Kawan. Pacaran itu bukan pilihan untuk mengikat namanya cinta. Karena dari aktivitas itu banyak kemungkinan terburuknya. Dalam Islam ada ta’aruf (pengenalan lebih dalam) untuk kejenjang pernikahan. Dari proses ta’aruf ini nanti kita akan saling mengenal dengan masa tertentu.

Percaya deh, kalau kita fokus memperbaiki diri, fokus terhadap masa depan, maka Allah akan menyiapkan pasangan yang terbaiknya untuk kita. Aku pun sedang berproses untuk itu, dan sangat meyakini itu.

Jadi, untuk kalian yang sedang berproses atau berniat untuk lebih dekat kepada Allah dengan single lillah, ya buku ini sangat cocok sebagai penguat hati. Selama membaca buku ini aku sangat amat menyesal sekaligus bahagia.

Menyesalnya, dulu aku pernah terikat dengan lingkaran aktivitas hawa nafsu. Bahagianya, aku bersyukur telah dikuatkan kembali memalui buku ini.

Semoga kalian yang masih pacaran, yuk tentukan pilihan: segeralah ubah status menjadi SAH atau tinggalkan dia. Untuk kalian yang dalam proses move-on ingat move-on itu berpindah. Jadi, kalau kalian mau move-on dari pacaran dengan mencari pengganti si pacar, itu mah bukan pindah, tapi transit. Haha … ups.

Move on jangan tanggung, sakit hati karena pacar, mau move on ya berhenti PACARAN!

Judul Buku: Allah, Jangan Biarkan Aku Sendiri

Penulis : Dwi Suwiknyo

Penerbit: Trenlis

Cetakan: Pertama, November 2018

Tebal: 168 halaman

ISBN: 978-602-52799-1-1

***

Oleh: Nurwa R.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: