Kemarin adalah masa terberat dalam hidupku. Mungkin aku sering mengalaminya, namun tekanan ini lebih seperti menusuk hatiku dengan sembilu. Aku pulang dengan niat ingin mengetahui kabar orangtua. Lah kok malah rasanya ingin cepat balik ke perantauan saja. Ya, aku tahu, sudah lama orangtuaku menginginkan aku menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil).

“Gaji guru PNS sekarang bagus loh, Kak, enggak seperti dulu sebelum zamannya Pak SBX.” Suatu hari ibu bercerita, tepatnya merayuku dengan buaian kemapanan jikalau aku bisa jadi PNS. Ibuku juga seorang guru PNS. Bedanya beliau guru SD, sedangkan aku calon guru SMP atau SMK. Terkadang cerita tentang bagaimana beliau bekerja tak sinkron dengan passion-ku.

“Bu, aku malah ada pandangan ngajar di sekolah swasta. Sekolah yang sepertinya gayanya cocok sama gaya mengajarku.” Aku mengatakan ini bukan tanpa tekanan. Keringat dinginku mengucur. Degup jantungku berdetak kencang. Seketika ibu tersenyum kecut. Beliau melirik Bapak yang ada di sebelahnya. Bapak berdehem. Duh, mati aku.

“Sekolah swasta dapat apa, Kak? Gaji tak tentu. Bisa dipecat sewaktu-waktu. Malah nantinya enggak dapat pensiunan.” Kan, benar apa yang kubayangkan. Intinya ini sudah tanda titik dari kedua belah pihak orangtuaku. Aku wajib jadi PNS!

Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam ke lututku yang kutekuk. Malam ini rasanya sangat panjang. Tak seperti hari biasanya saat aku berada di perantauan. Mungkin kalian bisa sedikit menebak mengapa selepas wisuda aku tak kunjung balik ke kampung halamanku. Padahal aku anak gadis yang biasanya manja dan butuh sekali dukungan orang tua. Ya, kalian benar, aku merasa aku bisa bebas mengikuti passion-ku saat merantau.

Begini, bukannya aku ingin menjadi anak durhaka. Aku hanya merasa depresi saat di rumah. Daripada aku terus membenci bapak dan ibuku, alih-alih tambah menyayangi mereka, lebih baik aku berpisah sementara. Dulu aku pernah bercerita kepada temanku yang berprofesi menjadi guru BK. Ya semua tentang keluh kesahku karena merasa sangat sulit mengungkapkan pendapatku sendiri.

“Ning, kalau kamu merasa kamu ‘hidup’ di saat tidak seatap dengan orangtua, coba saja. Aku bukan ngajari kamu durhaka loh, ya. Aku tahu kayak apa depresimu saat kamu dulu masuk kuliah,” balas Arni saat aku menceritakan kegelisahan menjauhi orangtua. Arni, teman satu grup ospekku, memang sudah kukenal empat tahun belakang ini. Semenjak aku kuliah dan akhirnya kami satu kos. Dia sudah menjadi guru honorer selepas sarjana. “Kamu juga kan sudah minta izin mereka kalau mau nyari kerja di sini,” tambah Arni.

Bukannya aku tak suka apa yang menjadi pilihan Bapak-Ibuku. Toh aku sudah empat tahun juga membagi apa yang kudapatkan di bangku kuliah dengan mengajar les privat. Anak-anak SD dan SMP yang memerlukan bimbingan belajar bisa memanggilku ke rumah. Tiap sore, selepas kuliah, aku menyambangi mereka dan belajar bersama. Jadi aku yakin, aku sebenarnya juga passion dalam dunia mengajar. Tapi hanya bukan PNS menurutku yang cocok dengan jiwaku. Jiwa bebas, tak terikat.

Tapi kemarin, kebebasanku terasa lepas lagi. Ibu memojokkanku untuk tetap mendaftar di ujian terheboh tahun ini. Tidak ada jawaban ‘tidak’. Aku terpekur. Haruskah aku?

Segera ku-chat Arni. Status ‘online’ di pesan instannya membuatku bahagia. Ada manusia yang bisa kumintai bantuannya saat ini juga. Entah bagaimana perasaanku kalau malam ini aku memendam semua kegelisahanku.

“Ar, aku kudu daftar CPNS, nih. Ibu sudah kasih ultimatum.”

Beberapa detik kemudian status ‘mengetik’ bergerak-gerak di bawah nama kontak Arni.

“Kamu punya pendapat kan? Yang sudah kamu ceritakan semua kepadaku? Sudah coba diberitahu?”

“Belum. Aku kalah sebelum aku kasih pengertian.”

“Hmm … berarti kamu belum yakin, apa yang sebenarnya kamu inginkan.”

Deg! Sesaat pikiranku kosong. Aku memutar kembali ingatanku yang lalu. Apakah aku memang belum tahu apa yang kuinginkan di hidupku? Apa benar aku belum menemukan passion-ku selama ini? Atau ternyata aku hanya menutup diriku dari nasihat orangtuaku hanya karena aku marah pada mereka? Dulu aku merasa sangat tidak dipedulikan saat Bapak atau Ibuku bekerja. Jadi aku merasa kalau aku jangan sampai menjadi seperti apa yang Bapak Ibuku kerjakan sekarang. Aku kan nantinya jadi ibu bagi calon anak-anakku, pikirku.

Tak terasa tubuhku rileks. Aku tertidur entah berapa lama dengan posisi memeluk lutut. Terkesiap, aku lalu terbangun di sepertiga malam. Ah, lututku kesemutan. Kuraba bawah bantalku. Kutekan jariku di belakang smartphone, terpampang jam digital di sana. Masih pukul 02:45 WIB. Pikiranku mulai kembali segar. Kulemparkan sekenanya HP yang butut itu. Aku bergegas mengambil wudu.

Ya Rabb, jikalau memang ini adalah jalanku membahagiakan orangtua, maka permudahlah. Tarik aku ke takdir itu. Namun, jika memang ini bukan jalan untukku, jauhkanlah dari harapan-harapan semu itu.

Aku memanjatkan doa khusyuk setelah merampungkan dua rakaat. Aku merasa aku membutuhkan doa ini tersampaikan kepada-Nya. Aku telah sombong mengatakan bahwa aku tak membutuhkan nasihat orangtua hanya karena passion yang belum tentu itu. Bapak Ibu, maafkan anakmu ini. Harusnya aku sedikit saja mendengarkan kalian. Maaf jika hari ini aku baru bisa membuka diriku lagi. Mungkin proses penyembuhanku atas tekanan-tekanan masih terus berlaku. Tunggu ya, Bapak, Ibu, tunggu aku benar-benar melepaskan masa lalu.

Kubuka laman SSCN (Sistem Seleksi CPNS Nasional) di laptopku. Loh, kok muncul gambar gozilla? Kupastikan lagi hotspot HP aktif. Lah, wifi laptop belum kunyalakan ternyata. Bismillah, aku mulai mencari lowongan sarjana sesuai jurusanku. Ada lima instansi yang membuka lowongan guru jurusan ini. Mataku terpaut kepada kota Yogyakarta. Kota yang selama ini aku diami untuk berkelana. Nah, ada yang pas di hati.

Aku segera mengetikkan NIK (Nomor Induk Kependudukan) dan Nomor Kartu keluarga untuk syarat mendaftar di sana. Setelah captcha selesai kuketik, kutekan enter. Lingkaran kecil di kursor berputar. Hampir 5 menit aku menunggu, hanya tulisan ‘data tak ditemukan’ yang kudapat. Hmm, ini kenapa? Masa NIK punyaku salah. Baru beberapa bulan lalu, aku mendatangi Dindukcapil (Dinas Kependudukan dan Calon Pil) demi mengurus KTP-el yang bermasalah ini. kok kumat lagi?

Azan subuh berkumandang. Dua jam lebih telah kubiarkan tubuhnya menghadap kotak berlayar elektronik itu. Aku mencari cara bagaimana mengetahui NIK seseorang benar datanya atau tidak di semua situs. Nihil, tak ada yang bisa memastikan, kecuali aku datang ke Dindukcapil. Sudah kubayangkan sepereti apa hariku saat menyerahkan lembar fotokopian KTP-el. Ratusan manusia tumpah ruah di dalam ruangan berukuran 10×10 meter persegi tersebut. Belum mengurus surat keterangan RT, RW, Desa dan Kecamatan. Duh!

Pagi itu aku pamit keoada ibu. Kuringankan kaki menjemput kegelisahanku ini. Tekadku sudah bulat, aku akan mencoba. Tak peduli, nanti hasil yang kudapat seperti apa. Aku hanya ingin mengusir pertanyaan demi pertanyaan tentang hidupku semalam. Siang hari selepas duhur, aku baru mendapatkan surat keterangan untuk kubawa ke Dindukcapil. Perjalanan setengah jam mengendarai motor harus kurasakan untuk menemui jawaban kegelisahan ini.

Ruangan lengang saat aku ke sana. Tak banyak petugas yang berada di balik meja pelayanan. Kuirik jam dinding di sudut ruangan, pukul 12:50. Kuedarkan pandangan, siapa tahu ada yang bisa kutanyai. Ah, di pojok meja pelayanan, ada murid SMA yang sedang mengetikkan sesuatu di komputer. Ini pasti anak magang, nih.

“Mbak, boleh tanya? Saya mau tanya status NIK saya nih. Tadi malam saya coba masukkan di web pendaftaran CPNS, kok munculnya ‘data tidak ditemukan’ ya?” Sejenak Mbak berkerudung putih tulang lengkap dengan seragam SMA-nya menatapku. “Oh, sebentar Mbak, saya tanyakan ke petugasnya, ya?” Dia beranjak bangkit dari kursi dan menghampiri satu petugas jaga yang sedang duduk dekat meja televisi.

“Mbak, ini nanti masuk bagian konsultasi. Bawa fotokopian KTP dan KK?” Mbak SMA itu menghampiriku tak lama setelah dia bertanya. Aku mengangguk, lalu menyerahkan fotokopian yang diminta. “Nanti saya nunggu dulu atau gimana, Mbak?” tanyaku saat semua berkas ditumpuk. “Tinggal aja, Mbak. Biasanya pengerjaan 1×24 jam. Nanti dicoba lagi daftar setelah masa tunggu itu.” Senyumanku merekah. Eh, kok cepet banget ya dilayani, enggak seperti biasanya.

Aku kembali ke kamar peraduan setelah tujuh jam berpetualang membetulkan NIK. Benar-benar perjuangan keras lagi setelah dulu masa-masa kuliah. Entah karena aku merasakan hal yang beda degan kerjaanku yang sedang kulakukan, di mana aku merasa enjoy, seperti tak harus pusing mengurus ini dan itu. Perjuangan ini lebih berat lagi ternyata, karena baru kutahu ada syarat SKCK dan Surat Sehat Jasmani Rohani. Apa pula surat itu?

Setelah kukumpulkan informasi, aku harus menyambangi Polres di kabupaten setelah sebelumnya minta surat rekomendasi dulu di Polsek Kecamatan. Dan apa yang dibawa ke Polsek, saudara-saudara? Surat keterangan dari RT, RW, Desa dan Kecamatan. Sounds familiar? Ya betul, sama seperti surat keterangan membetulkan NIK. Ya Rabb, kerja dua kali ini. Kenapa kemarin aku enggak sekalian minta? Eh, bukan, kenapa aku kemarin enggak lihat dengan teliti lagi syarat daftarnya? Gini nih kalau apa-apanya belum mantap.

Drama SKCK terlewati sudah. Dari pagi sampai sore, aku hanya membawa tubuhku pergi mengurus surat tersebut. Esok aku akan pastikan surat sehat selesai, aku harus menyambangi rumah sakit untuk syarat ini. sebenarnya tidak semua instansi memberikan syarat tersebut. Qodarullah, instansi yang kupilih meminta syarat tersebut untuk syarat lulus pemberkasan sebelum tes. Inilah harga yang harus kubayar agar bisa ngajar di Jogja, pikirku.

Namun, Allah berkehendak lain. Hampir satu setengah jam aku mengerjakan tes untuk sehat rohani, hasilnya mengejutkan! Aku kembali lagi keesokan harinya untuk wawancara dengan seorang psikiatri.

“Mbak, setelah dianalisis di komputer, jawaban Anda menunjukkan ketidakkonsistenan. Grafik dari tesnya tidak dapat dibaca sama sekali.” Aku melongo, belum paham apa yang dimaksudkan. “Ini di sini, ada grafik yang rendah di beberapa titik. Ini artinya Mbak sedang bingung dan enggak paham pernyataan dari tes kemarin,” sembari menerangkan Ibu psikiater tersebut menunjuk titik di grafik.

“Lalu bagaimana, Dok?” Jujur aku gelisah, bagaimana nanti kalau aku tidak bisa daftar? “Dua bulan terakhir ini, apa yang Mbak rasakan? Cemas? Sedih?”

Deg! Kok beliau tahu ya, apa aja yang kurasakan? Sesi wawancara ini benar-benar seperti mengulitiku. Aku benar-benar tahu kondisiku saat ini karena ‘jujur’ menjawab tes.

Sejam kemudian aku kembali ke rumah. Walau aku masih bimbang apa yang harus aku ambil nanti, aku sudah tahu bahwa aku harus mendapat pertolongan psikolog atau psikiater. Ah, ini ternyata yang ingin Allah tunjukkan untukku. Bukan hanya sekedar passion, tapi kebutuhan jiwa yang selama ini menurutku tak penting.

Dari syarat tes CPNS, Allah ingin aku tahu, aku bisa memantapkan passion-ku dengan ikhtiar terlebih dahulu. Kuhembuskan napas dan berucap basmallah. Aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk meminta dukungan orangtuaku. Ya, aku punya surat yang menyatakan bahwa aku sedang menderita ‘cemas dan depresi ringan’. Semoga, dari surat inilah, aku bisa ‘berdamai’ dengan jiwaku.

Oleh: Dhita Erdittya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: