Yakin Nih, Masih Kuat untuk LDRan?

Ilustrasi dari Brilio.

Hujan malam ini mengingatkanku pada dirinya yang jauh di sana. Klasik memang. Tapi itu kenyataannya. Entah, hujan seakan selalu memiliki cerita tersendiri pada setiap jiwa, terlebih mereka yang mengalami masa-masa indah bersama kekasihnya di musim itu.

PRA-LDR | “Kamu serius mau kuliah di Singapura, Bi?” tanyaku ketika pulang sekolah. Saat itu kelas XII, masa-masa yang genting bagiku dalam hubungan ini. Mendengar kabarmu ingin ke luar kota saja sudah membuat hatiku tidak nyaman.

“Kamu gak usah cemas, Ninda. Aku gak akan nakal di sana,” ucapmu lalu meraih tanganku, kamu seakan berjanji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Usahamu meyakinkan hati ini supaya tetap tenang. Kamu berhasil membuatku tersipu kala itu. Siapa yang tidak memerah pipinya digandeng oleh si belahan hati, sepanjang jalan pulang.

Tryout, kemudian UAS sampai akhirnya hari pengumuman tiba. Semua siswa bergembira, sorak sorai gembira sampai tangis bahagia pun terpancar. Melihat tawa mereka justru membuatku hampa, terlebih melihat wajah Hasbi. Senyuman yang sebentar lagi terbang ke negeri seberang.

Jujur, aku semakin takut.

Pernah suatu hari, aku rewel mengajakmu untuk nonton ke bioskop. “Sebentar lagi hujan loh,” ucapmu sambil memandang ke arah langit yang tertutup awan hitam. Aku tidak peduli, tetap terus merengek layaknya anak kecil yang ingin balon. Akhirnya kamu memenuhi keinginanku. Yes!  Aku tersenyum penuh kemenangan.

Di perjalanan pun satu-dua rintik mulai membasahi bumi. “Kita gak usah nonton, jalan-jalan aja,” ucapku berubah pikiran. Menurutku jalan-jalan lebih baik untuk menikmati hujan bersama, lagian nonton sudah sudah terlalu sering ini.

Kami basah kuyup melintas jalanan kota. Aku sangat menikmati tiap tetes air yang menerpa tubuhku, rasa dingin membuatku mendekap erat dia dari belakang. Meskipun tidak sampai bioskop karena terjebak hujan. Setidaknya aku bisa tetap bersamanya.

LDR | Aku tidak bisa mencegahmu untuk pergi. Niatmu untuk merantau sudah sangat kokoh, yang tidak akan bisa kuusik. Tiga hari sebelum kepergianmu adalah momen yang sangat manis dalam hidupku. Kamu benar-benar bisa membuatku merasakan jatuh cinta lagi, lagi dan lagi padamu.

Aku hanya bisa menahan napas, begitu panggilan yang akan membawamu ke Singapura bersiap untuk berangkat. Bola mataku pun sudah terasa memanas. Mungkin aku terlalu berlebihan dalam melepaskanmu, tapi percayalah aku sangat kehilanganmu.

Kamu berdiri tepat di depanku dengan tatapan yang tidak aku suka. Kedua tanganmu menyentuh pipi ini, “Aku pamit ya,” ujarmu bersamaan dengan air mata yang membanjiri pipi. Dengan refleks aku dekap erat tubuhmu, “Jangan nakal.” Semakin kamu bicara, semakin erat lingkaran tanganku di tubuhmu. Hingga akhirnya, aku terpaksa harus melepaskanmu. Melepaskan dalam soal jarak, bukan hati.

Tuhan, tolong jaga dia.

Seminggu setelah kepergianmu, membuatku seperti anak panah yang kehilangan busurnya. Sangat terasa perbedaanya sebelum dan sesudah kamu pergi. Tapi, bagaimanapun aku harus bangkit. Perlahan aku coba beradaptasi—tanpamu.

Seiring berjalannya waktu, kamu yang tidak pernah berhenti memberi kabar. Membuat hati ini utuh kembali. Karena kamu memang benar-benar moodbooster bagiku. Ternyata jarak bukanlah suatu halangan yang berarti selama masih bisa berkomunikasi.                 

LDR TAHUN PERTAMA | Suara rintik hujan masih terdengar. Sekarang mengingat masa itu membuat seakan udara di ruangan ini semakin menipis. Begitu sesak bahkan terasa nyeri. Mataku sudah berlinangan air mata yang hanya dengan satu kedipan saja, akan menumpahkan semuanya. Seperti ini kah rindu yang menyakitkan?

Satu tahun sudah kepergianmu. Sikapmu akhir-akhir terasa dingin, sama dinginnya dengan malam ini. Kamu membalas pesanku hanya sekadar membalas, hilang perhatian-perhatianmu termakan jarak. Sudah bosankah kamu?

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk nge-chat kamu.

Ninda: Kamu beda.

Pesan itu hanya dibaca olehmu, kutatap lamat-lamat layar ponsel di tangan, menunggu hadirnya teks darimu. Sepuluh detik, lima belas, tetap kosong. Tolong jangan abaikan aku seperti ini, jeritku dalam hati.

Tidak ada pesan baru darinya. Oh, Hasbi, sesibuk itu kah. Karena ketidaksabaranku aku pun coba mengubungi dia via telepon. Aku menggigit bibir bawahku begitu terdengar nada tunggu.

Hallo… bit*h. Can you stop bothering us?”

Aku terpaku, jantung ini tidak terkendali lagi degupnya. Aku menutup wajahku ke bantal, kuberteriak sekencang-kencangnya mengeluarkan semua rasa sakit di dada. Ternyata jarak benar-benar mampu mengubah seseorang.

Semua janji manisnya sudah busuk! Kata-kata setianya dusta! Jangan bicara soal komitmen kalau tidak sanggup untuk menjalaninya. Dan malam ini bersama hujan, aku harus menahan sakitnya hati ini.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk bernapas tenang, kuhapus air mata di pipi. Kupaksakan senyumku mengembang sambil menatap hujan di luar sana. Aku harus bisa setegar hujan, ya, meskipun jatuh berkali-kali mereka tidak pernah lelah menikmati prosesnya.

Malam ini juga, aku harus menghapus semua hal yang berkaitan dengan cowok pecundang itu. Foto, sudah kurobek menumpuknya jadi satu. Beberapa boneka, dan potong baju, semuanya kumasukkan ke kardus, aku yakin di luar sana barang-barang ini lebih dibutuhkan.

Aku hanya ingin tidak esok ketika menyapa mentari, hatiku sudah siap untuk lebih baik. Dan meninggalkan luka bersama hujan malam ini.

Oleh: Nurwa R.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan