Iri! Sungguh aku iri pada teman lain yang mempunyai suami seorang ustad.

“Abi kursus ngaji gitu, biar bisa jadi imam di masjid!” pintaku pada suami suatu ketika.

“Cari teman tuh yang solih donk Bi,” protesku saat sering sekali teman suami yang kumpul di rumah tidak beranjak salat saat adzan berkumandang. Padahal si abi bergegas ke mushala.

“Aku tuh pengen, abi jadi ustad. Ngisi pengajian di mana-mana, jadi imam di masjid.”

Dan suami super pendiam itu hanya tersenyum. Tidak melakukan pembelaan. Sungguh-sungguh hanya diam, kemudian melanjutkan kegiatan.

***

Semasa kuliah, aku dan teman-teman satu kos punya impian yang sama: mempunyai suami seorang ustad. Jika dia adalah guru, maka dia adalah guru yang ustad. Jika si lelaki adalah pegawai kantor, maka ia juga pegawai yang ustad. Pun, jika ia adalah pedagang di pasar, maka ia adalah pedagang yang ustad.

Lelaki yang dipanggil ustad itu dalam benak kami ya lelaki yang klimis. Lelaki berjenggot, celana cingkrang, dan ia menjadi imam di masjid. Ia juga sering mengisi pengajian di mana-mana.

Entahlah, waktu berjalan begitu cepat dan pada kenyataannya suamiku bukanlah seorang ustad. Beberapa tahun menikah dan nyatanya kehidupan keluarga kami baik-baik saja meski pun si abi bukan ustad. Dan keinginan mempunyai suami ustad sepertinya telah lama terkubur.

Hingga suatu ketika, keinginan itu kembali datang ketika melihat beranda facebook teman-teman kampus yang dulu satu kos. Kulihat suami mereka berpenampilan ustad seperti yang kusebutkan tadi. Pun isi postingannya tidak jauh-jauh dari soal agama.

Duh, beruntungnya mereka!

Entahlah! Padahal, pilihan untuk menikah dengan suami aku ambil secara sadar dan tanpa paksaan. Bahkan keputusan itu kuambil setelah beberapa minggu melakukan istikhoroh. Tapi, perasaan tidak puas dan selalu membandingkan dengan suami teman semakin hari semakin meresahkan.

Tentu aku sadar hal ini tidak baik. Tapi, hasrat untuk menjadikan suamiku seorang ustad kian hari kian kuat.

Suatu hari, teman semasa kuliah datang dan menginap di rumah. Entah karena apa, tiba-tiba dia menghubungiku dan bilang ingin silaturahmi. Kangen katanya.

MasyaAllah, suamimu mau ya bantuin nyuci?”

“Enak ya, suami bisa gantian jaga anak.”

“Loh, orang-orang kampung kok baik banget sih sama kamu, mereka pada ngirimi kamu hasil kebunnya.”

Dan bla … bla … bla … komentar temanku itu bikin aku heran. Bukankah kehidupannya lebih wow? Suaminya ustad kondang di daerah Solo. Pastinya punya banyak jamaah yang akan berbuat “Baik” juga pada keluarga mereka. Apalagi, si suami kan trainer, pastilah kenal banyak orang dan tentu hal itu membuatnya bangga.

Tak disangka-sangka, ternyata apa yang aku dengar sungguh membuat rasa iri yang tadinya begitu mengusik mendadak sirna.

Jadwal ceramah si suami yang begitu padat membuat temanku tidak bisa meminta bantuannya untuk melakukan tugas rumahtangga. Pun kegiatan sebagai trainer yang kadang harus ke luar kota, membuat si teman tadi dirundung rindu. Dua hari, tiga hari, bahkan seminggu tidak bisa pulang. Anak-anak tentu hanya si teman yang meng-handle. Paling berat adalah perasaan khawatir kalau suami kecantol wanita lain saat tugas luar kota.

“Aku sih nggak ngeluh, cuma kadang pengen aja gitu punya suami orang biasa. Biar bisa selalu kumpul dan dapat melakukan tugas bersama.”

Kata-kata temanku itu, membuat dadaku berdebar aneh. Seperti ada tanah longsor di dalamnya.

“Anak-anak juga kadang sedih, jarang banget bisa bertemu abinya.”

Teringat kembali setiap pagi, suamiku memutar cucian, sementara aku memasak dan mengurus keperluan anak. Juga muncul banyak bayangan: suami yang sedang menemani si kecil bermain sementara aku mendampingi si kakak belajar. Suami yang selalu menemani jalan pagi di hari Minggu. Juga suami yang siap memijit saat aku hujan-hujanan dari sekolah.

“Padahal, dulu aku pengen banget punya suami ustad kondang,” lanjut si teman. “Ternyata berat! Kalau nggak sabar-sabar, bisa-bisa aku cepet tua dan suamiku nikah lagi.” Tawa temanku berderai, tapi tidak denganku. Aku justru mendadak menjadi mellow.

Ah, baru saja aku sadar, ternyata ini jawabannya kenapa jodohku bukanlah seorang ustad! Tentu saja aku tidak akan sekuat temanku tadi.

Aku kan paling tidak bisa ditinggal lama-lama sama suami. Apalagi kegiatanku yang banyak tentu tidak akan pas jika suami pun mempunyai jadwal yang padat. Bisa-bisa rumahtangga jadi kurang harmonis dan anak tidak terurus.

Setelah temanku pamit pulang, di sore yang gerimis itu aku mendekati suami yang masih khusyuk dengan laptopnya. Kusuguhkan teh hangat dan mendoan padanya.  

“Abi,” panggilku pelan.

“Ya sayang ….”

“Letakkan laptopnya to,” rajukku pada suami.

Akhirnya kami pun duduk di teras berdua. Menikmati rintik hujan di penghujung hari.

“Makasih ya udah jadi suami dan ayah yang baik.”

Suami hanya menoleh, tanpa satu kata pun keluar. Ia menyeruput teh panas dan memandang jalanan yang basah.

“Abi juga lelaki yang baik sehingga para tetangga senang pada keluarga kita,” lanjutku.

 Aku kembali teringat bahwa selama ini suamiku telah banyak membantu masyarakat sekitar. Mengajak para pemuda untuk belajar merakit komputer, membantu masyarakat miskin untuk dapat bantuan pemerintah, dan menjadi sahabat para pemuda kampung yang tidak pernah salat.

Sahabat yang tidak pernah menyuruh atau memerintah untuk salat, tapi abi hanya memberi contoh segera ke mushala setiap adzan berkumandang.

Suamiku masih diam.

“Abi,” panggilku lagi.

“Apa sayang?” jawabnya sembari mengambil mendoan dan memakannya.

“Abi nggak usah deh jadi ustad, cukup kayak gini aja.”

“Katanya abi suruh kursus ngaji murotal?”

“Nggak juga nggak apa-apa kok. Udah cukup gini aja! Asal abi jamaah terus di mushala.”

“Hmm …” suamiku kembali meminum teh. “Takut dipoligami ya?” tanya suamiku kemudian.

Aku mendelik, “Apaan sih!”

“Hayo ngaku!”

Dan suami pun tertawa melihatku cemberut.

Yah, endingnya tidak seperti yang kuharapkan. Harusnya kan suami tersenyum dan sore itu, akan menjadi sore yang romantis. Hmm … pasti ini gara-gara berita di TV tentang beberapa ustad yang mau poligami.

“ … Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyenangi sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 216)

Oleh: Sri Bandiyah.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: