Yakin Saja, Akan Indah Pada Waktunya

Tepat hari Minggu, tanggal 10 April 2016. Pagi benar, aku mendapat sms dari kakak ipar. Isinya,

“Dek, bisa datang ke rumah nggak? Aku minta dianterin ke rumah bu Bidan. Mbah Uti lagi ke Wangon. Mbah Kakung lagi ke sawah.”

Lama, aku nggak buka hp juga. Waktu itu, lagi ada les sama anak murid. Hpku berdering, telpon dari kakak ipar satu lagi, dengan isi pesan yang sama. Aku kaget, langsung matikan HP, menyuruh anak murid berkemas dan aku sendiri bergegas. Suami yang sedang berada di belakang rumah, sedang membersihkan pekarangan aku panggil. Suami terburu-buru beranjak. Sepuluh menit kemudian aku dan suami masing-masing sudah mengendarai motor sendiri. Aku yang akan membonceng mbak Rum, suami akan membawa perbekalan dan yang akan ikut menunggui.

Lima menit perjalanan ke rumah mbak Rum, langsung aku masuk rumah.

 “Ayuk mbak, mbonceng aku.”

Sepanjang perjalanan, aku deg-degan. Baru sekali ini aku membawa orang hamil yang mau lahiran. Debarannya luar biasa, aku jalan sangat pelan. Seharusnya sepuluh menit sudah sampai di rumah bidan, namun kali ini sedikit agak lama. Beberapa saat kemudian suamiku sudah datang bersama embah dukun bayi.

Kurang lebih pukul 3 sore, sudah semakin intens proses persalinannya. Aku semakin ikut deg-degan, sampai grogi juga. Untuk mengurangi derajat kekhawatiran aku mengambil wudhu dan tak lama kemudian berkumandanglah adzan ‘Ashar. Sholatlah aku lalu berdo’a. Setelah itu aku duduk di depan pintu kamar bersalin, aku diperintah bu bidan buat mantengin jam di hp untuk perkiraan waktu lahir. Bayi perempuan lahir tepat pukul 16.35, aku bahagia luar biasa.

Berhubung tidak ada bapak sang bayi disitu, yang mengadzani adalah suamiku. Suamiku juga terlihat sangat bahagia. Lalu, aku disuruh membawanya ke ruang timbang bayi mau diukur juga tinggi badannya, dan diberikan perawatan yang lainnya. Aku menggendong keponakanku yang baru lahir ke ruang bayi. Sedikit berjalan beberapa menit, bu bidan sedang mengurusi mbak Rum nya, yang di ruang bayi asistennya. Selesai dengan semua proses itu, aku menggendong bayinya lagi untuk menemui mbak Rum.

Maghrib menjelang, aku dan suami pamit pulang. Saat tiba di rumah, sudah mandi dan beberes kami berbaring karena kelelahan. Kami membuka cerita tentang hari ini, sampai di suatu obrolan,

Suamiku, “Yang, kelahiran ponakanku tadi membawa pengalaman tersendiri bagiku. Pengalaman pertama menggendong bayi baru lahir dan aku mengumandangkan adzan ditelinganya. Sungguh membahagiakan.”

Entah karena aku yang sensitif kemudian karena sudah hampir tiga tahun belum juga hamil, aku jadi menjawab “Yang, kenapa kamu ngomongnya kayak gitu. Aku jadi merasa bersalah. Kenapa sih bukan aku yang memberikan pengalaman pertama bagimu. Kenapa harus ponakanmu. Akankah aku memberikan pengalaman selanjutnya untukmu yang? Kita sudah berusaha kesana ke mari, ke dokter, ke pengobatan alternatif, harus kemana lagi?”

“Eh, bukan begitu maksudku yang?”

“Aku pasrah yang kalaupun aku harus membuang penyakitku. Operasi saja, aku rela kalau memang harus begitu caranya.” tangisku pecah. Aku terisak, suamiku memelukku.

Aku menahan sesak di dada, saat ada yang bertanya kapan, kapan dan kapan giliranku. Ya Allah, kuatkan aku. Aku yakin aku pasti punya anak. Pasti akan ada waktunya.

Aku disarankan mertuaku untuk ikut merawat bayinya mbak Rum, ikut pijat ke mbah dukun bayinya, ikut minum jamu yang diberikan mbah dukun bayinya. Aku menurut saja.

Tanggal 28 April 2016 aku pergi ke dokter karena aku sakit. Aku diperiksa, kebetulan dokternya teman suamiku.

“Lha, ternyata mas Joko ini suaminya mbak Betty to.” tanya bu dokter.

“Iya, bu. Eh, bu dokter lagi hamil ya?” jawabku.

“Iya nih mbak, udah lima bulan. Njenengan nggak lagi hamil kan mbak?”

“Kayaknya sih belum dok, ini mungkin bentar lagi mau mens.”

Dua tiga hari aku minum obat, aku tidak merasakan ada perubahan. Mens belum juga datang. Suamiku menyuruhku berhenti minum obat. Bulan lalu aku mens sekitar tanggal tiga, ini sudah tanggal satu belum mens juga. Suamiku mulai gelisah. Dia sudah membeli dua testpack sekaligus. Aku menyuruhnya bersabar sampai tanggal tiga, dia semakin resah. Akupun jadi ikut penasaran.

Tanggal dua malam sebelum tidur aku semakin berdebar, aku masuk kamar mandi dan membuka tespack. Beberapa saat menunggu, aku terkejut luar biasa. Aku tidak yakin. Aku segera keluar kamar, menghampiri suamiku dan menunjukkan hasilnya. Suamiku langsung memelukku, menciumku dan terus memandangiku. Dia membisikkan sesuatu ke telingaku, “Yang, selamat ya kamu hamil. Tespacknya garis dua.”

Ya Allah, terimakasih. Semua memang akan indah pada waktunya. Terimakasih telah mengabulkan do’a-do’a kami.

Oleh: Betty Irwanti.

Facebook Comments

1 thought on “Yakin Saja, Akan Indah Pada Waktunya”

Tinggalkan Balasan