Yakin Saja, Pasti akan Ada Jalan Untukku

Hari di wisuda sudah hampir tiba di depan mata, dalam hitungan bulan. Namun, nasib skripsiku belum tahu akan selesai kapan. Aku harus segera menyelesaikannya, kalau tidak mau tertinggal lagi untuk diwisuda tahun ini.

Biaya membuat skripsi tidaklah sedikit. Di zamanku jarang ada yang punya komputer apalagi laptop. Otomatis kami yang sedang sibuk mengerjakan skripsi harus keluar ke tempat rental komputer. Bagi mahasiswa yang mempunyai keuangan lebih bisa meminta jasa rentalan dengan bayaran yang sudah disepakati.

Keluar masuk rentalan dan mengetik sendiri merupakan cara hemat. Selain materi semakin nyangkut di otak, dan jika pada saat sidang nanti jika ditanya tim penguji aku tidak terlalu grogi karena takut tidak mampu menjawab pertanyaan yang diujikan. Tentu saja biaya sedikit lebih murah walaupun cukup menguras waktu dan tenaga. Pernah terlalu asyik mengetik tak terasa waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Alhamdulillah tempat rental komputer dekat dengan kos-kosan.

Hari ini dapat kabar Bapak sakit dan dirawat di rumah sakit. Aku tidak mungkin meminta uang lagi ke Bapak. Bisikku. Sebenarnya, aku ingin pulang tapi Ibu melarang takut Bapak tambah ngedrop kalau lihat aku. Bapakku sangat perasa jika beliau melihatku tentu akan menjadi beban beliau.

Tugasku sekarang adalah mendoakan atas kesembuhannya dan lebih semangat lagi menyelesaikan skripsiku. Ya Alloh, aku bingung bagaimana cara mendapatkan uang buat biaya skripsi. Pikirku. Ya Alloh, bukakanlah jalan agar aku mendapatkan uang dan semoga Pak Kris dan Bu Yayuk mengizinkan aku untuk sebulan sekali merevisi. Doaku. Sebenarnya, aku takut dimarahi mereka tapi bagaimanapun mereka harus tahu keadaanku.

Kedua pembimbingku terkenal killer dan bukan orang sembarangan. Keduanya merupakan pejabat di kampus. Pembimbing pertama merupakan pembantu rektor sedangkan pembimbing dua adalah seorang pembantu dekan yang super sibuk karena beliau juga mengambil kuliah lagi di luar kota. Tapi bagiku, mereka orang yang berjasa dalam hidupku. Dibilang killer menurutku tidak juga, yang penting urusan skripsi berani jujur menurutku.

“Pak, maaf ya mungkin mulai sekarang Hana menghadap Bapak sebulan sekali,”ucapku pelan. Sebenarnya aku takut, tapi kucoba memberanikan diri jujur kepada Pak Kris.

“Kenapa, Han?” tanyanya heran.

“Begini Pak, berhubung orangtua sedang sakit dan Bapak saya sedang mengalami kebangkrutan, saya tidak bisa merevisi skripsi saya langsung. Menunggu ada uang.”

“Bapak tidak jadi soal, yang penting kamu mau jujur dengan kondisi kamu dan tetap semangat menyelesaikan skripsi kamu, Han.” Alhamdulillah. Lirihku. Aku takjub mendengar penuturan Pak Kris. Ya Alloh, Engkau mudahkan jalan ini. Tidak mengapa asal pelan tapi kelakon. Walaupun sebulan sekali yang penting selesai skripsi.

Perasaanku sedikit tenang meskipun kemungkinan aku tidak diwisuda tahun ini. Saat aku sibuk membaca buku yang baru kupinjam dari perpustakaan, Mbak Nur datang menghampiri. Dia duduk di tepi ranjang. Kamarku bersebelahan dengan kamarnya.

“De, kamu lagi butuh uangkan?” tanya Mbak Nur. Aku langsung mengangguk pelan.

“Iya Mbak, buat skripsi sudah dipembahasan jadi harus selesai. Alhamdulillah tadi aku menghadap Pak Kris dan Bu Yayuk minta izin kalau menghadap mereka hanya bisa sebulan sekali. Ngetik kan butuh uang,” jelasku.

“Begini, mulai besok kamu ambil roti di Pak Aman terus kamu titipin ke warung dekat kampus juga di kos-kosan yang biasa Mbak titipin.” Aku kaget dengan ucapan Mbak Nur, “mulai sekarang kamu gantiin Mbak ngedrop roti dan makanan ke kos-kosan ya.” Lanjutnya.

“Ya Aloh Mbak Nur, ga usah. Jangan Mbak itukan usaha Mbak,” ucapku.

“Kamu lebih butuh De, Mbak cuma bisa kasih jalan. Kalau uang langsung Mbak sedang tidak ada. Kamu juga bisa belanja ke toko grosir beli mie, kopi atau kue-kue terus kamu titip juga. Lumayan buat tambahan.” Ya Alloh, Engkau selalu ada untukku. Engkau beri aku banyak jalan juga teman yang sayang padaku. Terimakasih, Ya Alloh.

Oleh: Deasy Hana.

Tinggalkan Balasan