Sedikit cerita, bagi anak kos sepertiku jarang sekali nonton TV.  Maklum, ngirit, jadi ketimbang duit buat beli TV, kan mending ditabung atau dibelikan beras, ya? Iya, enggak, Mas? Mas jodoh maksudnya. Calon istri idaman. Hehehe … tetep narsis.

Lanjut, ya! Nah, sore kemarin aku numpanglah nonton TV di kamar sebelah. Awalnya sih nonton sinetron-sinetron alay gitu, terus kupindah channel-nya. Ganti acara debat pilpres. Enggak suka debat sebenarnya, tetapi daripada nonton sinetron ya lebih suka lihat debat.

Loh, mendadak diganti acara sinetron lagi sama yang punya TV. Kesel kan, ya? Lagi asyik menikmati saling ngotot antara kedua kubu, eh hilang, ganti dialog-dialog kisah-kisah ABG. Aku diam saja, tahu diri lebih tepatnya. Ya mau gimana lagi, masak mau berdebat kayak calon pemimpin tadi.

Mereka jelas yang diperdebatkan, masalah negara, Sist, Bro! Lah, kami? Mau saling tarik urat untuk hal yang enggak manfaat? Minimal bisa mengendalikan dirilah untuk sesuatu semacam ini. Bukannya itu basic yang harus dimiliki seorang pemimpin? Eh … atau gimana, definisi pemimpin versi teman-teman?

Dari buku John C Maxwell yang berjudul Developing the Leader Within You di halaman 2, pemimpin adalah mereka yang memiliki pengikut. Simple, kan? Hidup ini memang sederhana kok, kita saja yang kadang memperumitnya. Hahaha …

Pengikut di sini bukan mereka yang terpaksa mengikuti atau dengan syarat tertentu loh, ya. Kalau seperti itu mah gampang, tinggal kasih uang juga beres. Ini beda, si pengikut bisa melakukan apa saja untuk kita secara sukarela. Catat! Sukarela. Jadi, seandainya kita nyalon presiden nih, tanpa mengeluarkan banyak dana, dia tetap memilih kita. Iya, dia tetap memilih kita. Dia, siapa? Yang menatapnya saja membuat berbunga-bunga? Bukaaan, pengikut woooi pengikut, stop! Jangan baper!

Gimana bisa ada pemimpin yang membuat pengikutnya kayak gitu? Ada, banyak. Kita yang enggak tahu saja karena sering disuguhi tampilan-tampilan pemimpin yang diam-diam menggrogoti dan berujung di balik jeruji besi. Terus nyanyi, “Pak Hakim dan Pak Jaksa, kapan saya akan di sidang, sudah tiga bulan mendekam, belum juga ….” cukup! Nanti melebar.

Oke, back to the laptop … eh topic, teman-teman tahu Larry Page? Enggak? Oh sama, aku juga baru tahu karena tulisan ini. Ketahuan, kan jarang baca. Hohoho … jadi siapa si Larry ini? Dia adalah salah satu founder Google. Jangan bilang enggak tahu google juga! Kalau ini kebangetan.

Nah, Larry Page bersama temannya Sergey Brin mendirikan sebuah perusahaan multinasional bernama Google LLc. Bisa bayangin seberapa sukses Google saat ini? Generasi milenial, siapa yang enggak kenal Mbah Google? Hayo, angkat tangan! Mau diapain, Kak? Enggak, nanya aja.

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1998, saat mereka berusia 25 tahun. Jauh sebelum para milenial menginjak masa remaja. Dua tahun sebelum mereka lahir malah. Jadi, dua Founder tadi sudah mampu memprediksi apa yang akan terjadi dua puluh tahun kemudian. Memprediksi, ya, bukan meramal.

Keduanya berbeda, meramal berarti sok tahu tentang masa depan yang diyakini bakal terjadi. Sedangkan memprediksi lebih pada membuat perkiraan dengan pertimbangan-pertimbangan logis dan bisa dipertanggung jawabkan

Kemampuan ini yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Seperti yang disebutkan dalam buku John C Maxwell halaman 77, bahwa Robert K Greenleaf pernah mengungkapkan, “Tinjauan ke masa depan adalan ‘tuntutan’ yang dimiliki pemimpin. Begitu ia kehilangan tuntutan ini dan situasi mulai mendikte sikapnya, pemimpin hanyalah sebuah gelar.

 Enggak hanya kepandaian prediksi yang menjadikan Google sesukses sekarang. Selain itu, visi dari perusahaan inilah yang membuat misi-misinya terlaksana dengan lancar. Yaitu, ‘mengumpulkan informasi dunia, membuatnya dapat diakses dan bermnfaat bagi semua orang’ keren, kan? Visi merupakan hal yang sangat penting bagi pemimpin. Ia seperti tujuan, gimana kita bisa sampai kalau tujuan saja enggak punya?

Pentingnya visi ini juga dijelaskan John C Maxwell di halaman yang sama, 77, visi menjadi energy di balik semua usaha dan kekuatan yang mendorong diri melalui semua masalah. Dengan visi, seorang pemimpin akan bertindak dengan penuh tekad dan fokus.

Aku punya seorang Kakak sepupu, ketika teman-teman seusianya—remaja—sibuk bermain games, dia asyik merancang bisnis jual beli asesoris. Ya, asesoris yang kebanyakan dipakai perempuan. Dia banyak mendapat nyinyiran dari netizen karena menjual pernak-pernik perempuan. Modal yang dia miliki juga enggak besar, sekitar dua ratus ribuan.

Tetapi, demi mewujudkan visinya ‘mengumrahkan orang tua berkali-kali’, dia tetap semangat dan fokus. Tiga tahun berjualan, dia mampu mengumrahkan orangtua, membeli mobil dan membangun rumah. Hebatnya, usaha yang dulu di pandang sebelah mata oleh kawan-kawannya, justru kini diikuti.

Sebenarnya bukan cuma visi yang menyebabkan dia gigih dan fokus, dia juga memiliki moto ‘lakukan yang terbaik, hasilnya serahkan pada-Nya’ yang memberi batas pada harapan-harapannya agar enggak bergantung pada usaha yang telah dia kerjakan. Moto seperti ini jelas dimiliki perusahaan sebesar Google. Yakni, ‘don’t be evil!’ yang punya makna melakukan sesuatu secara benar dan mengutamakan integritas.

Integritas juga dibahas dalam buku John C Maxwell halaman 44, orang yang punya integritas tidak akan bermuka dua, berpura-pura, atau menyembunyikan sesuatu. Integritas bukanlah apa yang kita lakukan melainkan sebaliknya, jati diri yang terpanjar melalui perilaku kita.

Orang-orang yang semacam ini, akan jujur pada diri sendiri maupun orang lain dalam keadaan apa pun. Mampu membatasi nafsunya, bisa mengontrol diri, dan enggak bisa dikendalikan orang. Menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Sehingga banyak yang dengan mudah percaya.

The greatest jihad is to battle your own soul, to fight the evil within yourself (Prophet Muhammad)

Jihad terbaik adalah melawan nafsu yang ada dalam diri kita. Kalau kita sudah mampu memenangkan perang ini, mau sebesar apa pun nyinyiran dan godaan, tetap stay cool Guys! Mental begini yang perlu dimiliki generasi penerus bangsa kita. Remaja yang cerdas, jelas mempunyai integritas. Remaja bukannya masa pencarian identitas?

Benar, ilmu psikologi mengatakan begitu, tapi pembentukan karakter seseorang, bahkan dimulai dari memilih pasangan dalam agama islam. Itulah alasan mengapa sebagian kecil orang menyalahkan pola asuh orang tua (yang kebanyakan) secara enggak sadar mengadopsi teori behavioristik.

Teori behavior ini identik dengan hukuman dan hadiah. Begitulah, mereka yang terbiasa memberikan hadiah pada anak untuk setiap pencapaiannya, cenderung membuat anak tergantung pada penghargaan, hingga dia dewasa. Bukan berarti enggak boleh memberi hadiah, yang terlalu sering sebaiknya dihindari.

Ada juga yang membiasakan hukuman. Hasilnya, anak kebal terhadap hukum. Kebal di sini mempunyai arti enggak merasa takut lagi karena sudah biasa. Jadi, wajar kalau kita temukan seorang pejabat yang korupsi berkali-kali.

So, pemimpin sejati sudah terlihat sejak usia remaja. Maka dari itu, sangat penting menjaga dan memperbaiki mental remaja-remaja kita yang tanpa sengaja telah terkontaminasi. Agar tercipta generasi cerdas berkualitas di negara kita. Seperti pemimpin-pemimpin islam yang pernah berjaya di masanya.

Pernah baca kisah Umar bin Abdul Aziz? Gubernur Madinah yang diangkat ketika baru berumur 25 tahun. Remaja yang elu-elukan karena kecerdasan dan akhlak yang beliau miliki. Oleh karenanya Umar pun pernah menjadi menteri dan penasihat Sulaiman ibn Abdul Malik yang menjabat sebagai pemimpin umat islam sebelum Umar.

Anehnya, Umar justru melepaskan kemewahan yang beliau miliki semenjak lahir, saat beliau dinobatkan sebagai pemimpin umat islam. Logis enggak kira-kira kalau presiden hanya mempunyai beberapa pakaian yang bahannya sangat kasar dan tinggal di gubuk sederhana? Beliau ini lebih tinggi jabatannya daripada Presiden loh, tapi enggak pernah minta untuk dilayani. Umar sibuk menjalankan kewajibannya melayani umat.

Suatu malam, Umar lagi menyelesaikan tugas-tugasnya. Putra beliau, minta izin untuk bicara tentang masalah pribadi. Lalu Umar mematikan lampu yang beliau gunakan. Kenapa? Sebab, Umar enggak mau menggunakan fasilitas yang bukan haknya. Terbayang, seberapa hebat beliau mampu menang melawan nafsu diri sendiri? Jadi apa kabar orang yang justru bangga menikmati triliunan hak orang? Hahaha ….

Ya sudahlah, itu tanggung jawab mereka, kita doakan saja segera taubat nasuha. Aamiin. Apa sih, kesimpulan dari pembahasan panjang lebar kita? Tentu saja banyak karakter yang mesti dimiliki pemimpin. Hanya saja, seorang perawat harus memastikan dirinya sehat, agar bisa menjaga pasien-pasiennya. Begitu juga kita, pastikan dulu kita sukses memimpin diri sendiri! Otomatis keberhasilan akan mengikuti.

Oleh: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: