Zaman Now, Gimana Sih Gaul yang Cerdas Itu?

Siapa sih yang nggak mau disebut gaul? Kita sering mendengar kata gaul, eksis, bahkan yang terbaru ‘kids zaman now’. Namun nggak sedikit yang salah kaprah dengan gaul itu sendiri.

Ada yang menilai bahwa gaul itu identik dengan eksis dan tindakan cari perhatian. Seperti berdandan secara berlebihan untuk menarik perhatian orang lain. Senantiasa mengikuti trend fashion terkini. Sederhananya, orang menganggap orang lain nggak gaul kalau ia nggak sama dengan trend kekinian secara penampilan fisik.

Gaul memang upaya agar kita nggak ketinggalan zaman. Namun hakikatnya, nggak melulu tentang fisik atau barang-barang yang kita miliki. Gaul bukan sekadar mengikuti perkembangan trend kekinian. Lebih dari itu, gaul itu upaya menjaga eksistensi diri dalam kehidupan sosial dalam arti nyata. Lalu seperti apa sih gaul yang bener itu?

Suka membantu orangtua dan orang lain

Bagi sebagian remaja masa kini, membantu orangtua apalagi orang lain, hanya tindakan yang membuang-buang waktu. Namun kita harus ubah paradigma tersebut. Kalau remaja lain hanya sibuk mengurus dirinya sendiri hingga nggak sempat membantu orangtua dan orang lain, kita nggak boleh demikian.

Gaul itu, saat kita masih memiliki waktu membantu orangtua dan menolong orang yang membutuhkan, di tengah-tengah kesibukan kita. Kita masih bisa menolong orang yang sedang sempit di tengah-tengah kesempitan hidup kita. Dengan bertindak demikian, kita telah memulai menerapkan arti ‘gaul’ yang sesungguhnya.

Nggak egois

Remaja masa kini tak sedikit yang begitu egois hingga tak peduli dengan keadaan sekitar. Misalnya, seenaknya menyetel musik keras sedangkan tetangga sebelah sedang sakit atau nggak suka kebisingan. Atau memodifikasi motor hingga bersuara nyaring demi mencari perhatian, padahal suara motornya mengganggu orang banyak. Atau nggak mematuhi rambu lalu lintas dan ngebut di jalan hanya karena takut telat berangkat sekolah.

Ayolah, sudah bukan zamannya lagi bersikap egois atau mementingkan diri sendiri. Islam mengajarkan kita untuk mengutamakan kepentingan umum atau kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.

Santun

Rasulullah saw diutus ke muka bumi tak lain untuk menyempurnakan akhlak. Artinya, akhlak merupakan aspek penting kehidupan setelah iman dan ilmu. Kalau kita ingin disebut gaul ala Rasulullah, maka sebagai remaja kita harus menjadi pelopor penerapan sopan santun dalam kehidupan sosial.

Kita menghormati yang lebih tua, menyayangi sesama manusia dan makhluk. Termasuk juga berusaha lembut dalam bertutur kata dan bertindak, serta memilih diksi (bahasa) yang sopan berdasarkan kebiasaan sosial setempat. Kita menjaga perasaan orang lain pun merupakan bentuk dari kesantuan. Remaja gaul juga mampu menghargai perbedaan dalam kehidupan sosial.

Sosialis

Remaja gaul ialah kita yang mudah bergaul dengan siapa pun. Nggak memilih suku, ras bahkan agama sekalipun. Islam mengajarkan kepada kita untuk menghargai semua orang dengan segala latar belakangnya. Serta berusaha membangun hubungan yang baik sehingga terbangun relasi dan toleransi yang baik.

Tentu berbeda bila kita hendak menjadikan seseorang sebagai teman dekat.  Apalagi teman yang sekiranya akan membawa pengaruh besar dalam kehidupan kita. Maka Islam menganjurkan agar kita memilih seselektif mungkin. Karena bersama teman dekat itulah, kepribadian kita akan terbentuk.

Menjaga batas pergaulan

Mudah bergaul dan disenangi banyak orang merupakan anugerah tersendiri bagi pribadi tertentu. Namun kita harus ingat, bergaul juga nggak boleh kebablasan. Islam sudah menetapkan batas-batas yang nggak boleh kita lewati dalam pergaulan.

Semisal, saling menjaga perasaan, serta menghindari candaan yang berlebihan. Dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan, juga ada batasnya sendiri. Seperti dilarang berkhalwat (berdua-duaan bukan mahram), menjaga pandangan serta menjaga kehormatan diri.

Sosial oke, ibadah apalagi

Tak sedikit orang yang sejak remaja sudah sangat sibuk dengan kehidupan sosial. Baik itu sekadar bersosial dengan sesama teman, atau bersosial dalam lingkup organisasi. Kesibukan tersebut tentu menyita waktu yang nggak sedikit. Belum lagi kesibukan belajar di sekolah, membantu orangtua dan sebagainya.

Namun remaja gaul ala Islam ialah, dia yang sibuk dengan kehidupan sosial, tapi nggak lalai dalam ibadah. Ia tetap menjaga shalat wajib. Bersosial juga nggak menjadi alasan bagi dia untuk nggak berpuasa atau membatalkan puasa wajib. Intinya hubungannya dengan manusia nggak membuat ia terlena dan melupakan hubungan dengan Allah swt.

Update informasi dan isu-isu sosial kemanusiaan

Remaja gaul itu bukan hanya mereka yang eksis di media sosial. Lebih dari itu, kita senantiasa update infromasi seputar masalah kemanusiaan yang terjadi akhir-akhir ini. Dan akan lebih sempurna bila sikap selalu ingin tahu perkembangan kemanusiaan terkini, disertai kepedulian yang luar biasa. Misalnya ketika terjadi bencana alam di daerah tertentu, kita bersama-sama teman organisasi atau bahkan geng, melakukan aksi sosial dengan penggalangan dana.

Produktif

Sudah bukan zamannya kita hanya menjadi golongan masyarakat konsumtif. Bisanya hanya menikmati hasil tanpa mau berusaha untuk menjadi sosok yang produktif. Ada banyak sisi kehidupan yang bisa kita tekuni. Apalagi di usia remaja, kita masih memiliki banyak sekali waktu luang. Jadi gunakan sebagian kecil dari waktu luang tersebut untuk menciptakan sebuah karya atau perubahan di bidang tertentu. Bisa di bidang literasi seperti menulis, bidang ekonomi kreatif, kerajinan atau bahkan bidang sosial.

Nah, sudah tahu kan ciri remaja gaul ala Islam? Kalau sudah mari kita terapkan dalam kehidupan pribadi kita. Sebab perubahan hanya bisa terjadi bila kita memulainya dari diri sendiri. Siap?

Oleh: Gafur Abdullah.

Tinggalkan Balasan